Bank Sampah Fakfak Hijau Dorong Kolaborasi Kelola Sampah
- 03 Agt 2026 13:39 WIB
- Fak Fak
RRI.CO.ID, Fakfak - Pengelolaan sampah di Kabupaten Fakfak membutuhkan kolaborasi lintas sektor sekaligus sistem yang mampu menjangkau masyarakat hingga tingkat lingkungan. Bank Sampah Fakfak Hijau menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut melalui kerja sama dengan pemerintah, kelurahan, PKK, sekolah, hingga pihak swasta untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah.
Pengelola Bank Sampah Fakfak Hijau, Ris Fandy Yanto, mengatakan Bank Sampah Fakfak Hijau yang berada di bawah binaan Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP). Dalam menjalankan kegiatannya, bank sampah juga berkolaborasi dengan Bidang Kebersihan, Pertamanan dan Pemakaman pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Fakfak, serta pemerintah kelurahan, khususnya Kelurahan Fakfak Utara dan Kelurahan Fakfak Selatan.
Kolaborasi tersebut, kata Fandi, dilakukan melalui kegiatan, edukasi, dan pendampingan yang menyentuh langsung masyarakat. Di lingkungan sekolah, sejumlah guru juga mulai melakukan sosialisasi dan meminta edukasi mengenai cara memilah sampah. Keterlibatan PKK juga terus didorong untuk memperkuat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah.
“Untuk saat ini, yang dibutuhkan adalah kegiatan, edukasi, dan menciptakan sistem yang menyentuh masyarakat. Masyarakat harus didampingi, apalagi kesadarannya masih rendah,” kata Ris dalam acara Green Radio bertema “Sampah Jadi Masalah, Kolaborasi Jadi Solusi” di Prosatu RRI Fakfak.
Salah satu rencana pengembangan yang disiapkan adalah waste station melalui kerja sama Bank Sampah Fakfak Hijau dengan PT Pelindo. Program tersebut ditargetkan dapat diterapkan di tiga distrik dan lingkungan pelabuhan, serta tidak menutup kemungkinan dikembangkan di setiap distrik hingga tingkat RT. Waste station diharapkan menjadi tempat masyarakat menyetor sampah yang telah dipilah, sekaligus mendukung proses penimbangan, pencatatan, dan pengelolaan sampah secara lebih teratur.
Selain menjadi tempat setor sampah terpilah, waste station juga berfungsi sebagai sarana edukasi lingkungan dan mendorong masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi dari sampah yang dikelola. Sistem tersebut diharapkan memperkuat kebiasaan memilah sampah dari rumah sebelum dibawa ke waste station untuk selanjutnya dikelola.
Fandi menjelaskan, dalam rencana pengelolaan sampah yang merupakan gagasan DLHP, terdapat konsep dual track, yakni pembagian pengelolaan berdasarkan jenis sampah. Dalam konsep ini, Bank Sampah Fakfak Hijau akan terlibat dalam pengelolaan sampah anorganik, sementara sampah organik akan diarahkan untuk dikelola oleh karang taruna. Sampah plastik yang terkumpul selanjutnya dapat dikirim untuk didaur ulang kembali ke industri.
Menurut Fandi, tantangan terbesar saat ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat dan mengubah kebiasaan. Keterbatasan lahan Bank Sampah juga menjadi salah satu kendala dalam pengelolaan sampah. Karena itu, pihaknya terus berdiskusi dengan DLHP untuk mencari solusi. Edukasi melalui media sosial juga dinilai membantu meningkatkan pemahaman masyarakat di tengah keterbatasan modal untuk kegiatan sosialisasi.
“Edukasi paling penting sejak dini. Kalau sudah terbiasa memilah sampah dan tidak membuang sampah sembarangan, ke depan akan terbawa dan terbentuk budaya mengelola sampah,” ujarnya.
Fandi berharap seluruh pihak dapat bergerak bersama, terutama masyarakat sebagai penghasil sampah. Ia mengajak warga memulai dari rumah dengan memilah sampah organik dan anorganik. Dengan kolaborasi dan sistem pengelolaan yang berjalan hingga tingkat lingkungan, ia berharap ke depan setiap rumah memiliki sarana pemilahan sampah untuk mendukung Fakfak yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....