Pondok Pinang "Khom Wria" Jadi Simbol Kepedulian Pemerintah kepada Pedagang Kecil

  • 01 Jul 2026 20:28 WIB
  •  Fak Fak

RRI.CO.ID, Fakfak – Rasa syukur dan haru terpancar dari wajah Mama Yuliana Pattipi, warga Kampung Wartutin, saat menceritakan perubahan yang dirasakannya setelah menerima manfaat Program Pondok Pinang "Khom Wria" yang dihadirkan Pemerintah Kabupaten Fakfak melalui Dinas Perkebunan. Baginya, pondok tersebut bukan sekadar bangunan, melainkan wujud nyata kepedulian pemerintah terhadap masyarakat kecil.

Selama bertahun-tahun, Mama Yuliana menggantungkan kehidupan keluarganya dengan berjualan pinang, sirih, tembakau negeri, kelapa, serta berbagai hasil kebun khas Fakfak. Sebelum memperoleh bantuan, ia berjualan di sebuah gubuk sederhana yang dibangun seadanya sehingga dagangannya kerap terkena hujan maupun panas.

Mama Yuliana mengaku paling terharu karena bantuan tersebut datang tanpa dirinya mengajukan proposal ataupun permohonan. Menurutnya, pemerintah turun langsung melihat kondisi para pedagang sehingga mengetahui siapa saja yang benar-benar menjalankan usaha setiap hari.

"Kami benar-benar bersyukur kepada Tuhan. Kami tidak pernah meminta ataupun mengajukan permohonan untuk dibangunkan pondok. Tetapi Tuhan membuka jalan lewat tangan pemerintah. Mungkin karena pemerintah turun langsung melihat usaha kami setiap hari, sehingga mengetahui bahwa kami memang benar-benar berjualan pinang, sirih, tembakau negeri, kelapa, dan hasil kebun lainnya," ungkap Mama Yuliana.

Ia mengatakan, keberadaan Pondok Pinang "Khom Wria" membawa perubahan besar bagi usahanya. Kini pembeli merasa lebih nyaman, dagangan terlindungi dari cuaca, dan aktivitas berjualan menjadi lebih tenang. Menurutnya, bantuan tersebut membuat mama-mama Orang Asli Fakfak merasa diperhatikan sekaligus diberdayakan.

"Dulu kami hanya berjualan di gubuk yang kami buat seadanya. Sekarang pemerintah membangun Pondok Pinang yang jauh lebih layak. Pembeli menjadi lebih nyaman datang, dagangan terlindungi dari panas maupun hujan, dan kami bisa berjualan dengan lebih tenang. Kami merasa diperhatikan dan diberdayakan sebagai Orang Asli Fakfak," katanya.

Mama Yuliana juga menyampaikan terima kasih kepada Bupati Fakfak atas Program Fakfak Membara yang dinilainya benar-benar menyentuh masyarakat kecil. Ia berharap program tersebut terus berlanjut agar semakin banyak mama-mama Orang Asli Fakfak yang memperoleh manfaat serupa.

"Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Bupati Fakfak atas Program Fakfak Membara yang benar-benar menyentuh masyarakat kecil seperti kami. Kami melihat sendiri bahwa pemerintah tidak hanya bekerja dari kantor, tetapi turun langsung melihat keadaan kami. Semoga Tuhan memberkati Bapak Bupati beserta seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Fakfak," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmorojati, ST., MT., menjelaskan bahwa Program Pondok Pinang "Khom Wria" merupakan inovasi daerah berupa program bedah tempat usaha bagi mama-mama Orang Asli Fakfak yang menggantungkan penghidupannya dari penjualan pinang dan berbagai produk kearifan lokal.

"Program tersebut merupakan bagian dari implementasi visi Fakfak Membara melalui pemberdayaan ekonomi kerakyatan berbasis potensi lokal atau Kampung Berdaya. Pemerintah ingin memastikan para pedagang memiliki tempat usaha yang layak, aman, dan nyaman sehingga mampu meningkatkan pendapatan keluarga sekaligus menjaga keberlangsungan produk-produk lokal," ujarnya.

Ia menegaskan, penyaluran bantuan tidak menggunakan mekanisme proposal. Pemerintah melakukan pemantauan langsung di lapangan untuk memastikan bantuan diberikan kepada masyarakat yang benar-benar menjalankan usaha setiap hari sehingga tepat sasaran. Saat ini Program "Khom Wria" masih berstatus pilot project dan akan diperluas apabila pelaksanaannya dinilai berhasil.

Bagi masyarakat penerima manfaat, Pondok Pinang "Khom Wria" bukan hanya menjadi tempat berjualan, tetapi juga simbol harapan dan keberpihakan pemerintah kepada mama-mama Orang Asli Fakfak. Dari pondok sederhana tersebut, pinang, sirih, tembakau negeri, kelapa, dan berbagai hasil kebun khas Fakfak terus dipasarkan sebagai bagian dari upaya menggerakkan ekonomi keluarga sekaligus melestarikan produk-produk kearifan lokal daerah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....