Wanita Assafah Soroti Tantangan Pendidikan Perempuan

  • 08 Jun 2026 13:50 WIB
  •  Fak Fak

RRI.CO.ID, Fakfak – Kesenjangan akses pendidikan antara wilayah perkotaan dan kampung masih menjadi tantangan besar dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan perempuan di Kabupaten Fakfak. Selain itu, faktor ekonomi, pernikahan usia dini, dan stigma gender juga dinilai masih menghambat perempuan memperoleh pendidikan yang berkualitas.

Hal tersebut disampaikan Ketua Organisasi Wanita Assafah Fakfak, Satry Ayub, S.Pd.I., M.Pd, saat menjadi narasumber dalam program Pengarusutamaan Gender dengan tema “Perempuan, Pendidikan, dan Masa Depan Generasi” di RRI Pro 1 Fakfak.

Menurut Satry, meskipun akses pendidikan di wilayah perkotaan relatif lebih baik, masih terdapat ketimpangan yang dirasakan masyarakat di sejumlah kampung.

“Masalah utama yang masih dihadapi adalah belum meratanya infrastruktur pendidikan. Di samping itu, kondisi ekonomi keluarga juga sangat mempengaruhi kualitas pendidikan yang diterima anak-anak, khususnya perempuan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa persoalan lain yang cukup serius adalah pernikahan usia dini yang sering kali menyebabkan anak perempuan terpaksa menghentikan pendidikan mereka.

Selain itu, masih terdapat stigma sosial dan budaya yang memandang perempuan hanya berperan di ranah domestik. Pandangan tersebut, menurutnya, dapat membatasi kesempatan perempuan untuk berkembang melalui pendidikan.

“Kita juga masih menghadapi diskriminasi gender yang membuat akses pendidikan belum sepenuhnya merata. Ini menjadi tantangan yang harus diatasi bersama,” katanya.

Satry menambahkan, sebagian orang tua juga masih merasa khawatir ketika anak perempuan harus melanjutkan pendidikan di luar daerah. Kekhawatiran terhadap pergaulan bebas dan keamanan sering kali membuat akses pendidikan bagi perempuan menjadi terbatas.

Untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut, ia menilai diperlukan kolaborasi yang melibatkan pemerintah, organisasi masyarakat, lembaga pendidikan, tokoh agama, serta keluarga.

“Perlu kerja sama yang holistik dan menyeluruh. Keluarga, sekolah, masyarakat, organisasi, dan pemerintah harus mengambil peran dalam menjamin rasa aman dan mendukung anak perempuan untuk terus melanjutkan pendidikan,” tegasnya.

Di era digital, Satry juga mengingatkan adanya kesenjangan pemanfaatan teknologi antara wilayah kota dan kampung. Karena itu, peningkatan literasi digital bagi perempuan dinilai menjadi kebutuhan penting agar mereka mampu bersaing dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Ke depan, Organisasi Wanita Assafah berharap perempuan di Fakfak dapat memperoleh akses pendidikan yang lebih mudah, baik melalui jalur formal maupun nonformal, sehingga semakin banyak perempuan yang memiliki kesempatan meraih pendidikan berkualitas.

“Harapan kami, perempuan mendapatkan akses pendidikan yang lebih luas dan berkualitas sehingga mampu mengembangkan potensi dirinya serta berkontribusi bagi keluarga dan masyarakat,” tutup Satry.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....