Umat Katolik Fakfak Harapkan Serikat Yesuit Kembali Berkarya di Papua
- 20 Mei 2026 21:33 WIB
- Fak Fak
RRI.CO.ID, Fakfak - Umat Katolik di Kabupaten Fakfak berharap Serikat Yesus (Yesuit) dapat kembali berkarya di wilayah yang dikenal sebagai tanah awal misi Katolik di Papua. Harapan tersebut mengemuka dalam kegiatan Pendalaman dan Kesaksian Iman 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua di Graha Le Cocq d’Armandville, Selasa 19 Mei 2026.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat menilai para misionaris Yesuit memiliki peran besar dalam sejarah awal perkembangan Gereja Katolik sekaligus pendidikan di Tanah Papua. Kehadiran mereka dinilai meninggalkan warisan penting bagi pelayanan iman dan pendidikan masyarakat Papua.
Salah satu peserta kegiatan menyampaikan, umat berharap Serikat Yesus dapat kembali hadir di Fakfak untuk melanjutkan semangat pelayanan yang pernah dirintis para misionaris awal.
“Masyarakat berharap Serikat Yesus dapat kembali hadir di Fakfak untuk melanjutkan warisan pelayanan iman dan pendidikan yang pernah dirintis para misionaris awal,” ujar salah satu peserta kegiatan.
“Atas nama masyarakat umat Katolik Fakfak, kami berharap suatu saat Serikat Yesus dapat kembali hadir di Fakfak. Karena tempat awal karya Pastor Le Cocq justru tidak lagi diteruskan langsung oleh Yesuit sendiri.” ujar RD Izzak Bame.
Sejarah mencatat Pastor Cornelis Johann Le Cocq d’Armandville tiba di Fakfak pada tahun 1894 dan melakukan pembaptisan pertama di Kampung Sekru pada 22 Mei 1894. Peristiwa itu menjadi tonggak awal berkembangnya misi Katolik di Tanah Papua.
Pada tahun 1895, Pastor Le Cocq bersama dua Bruder Yesuit dan seorang guru katekis bernama Christianus Palletimu mendirikan pos misi dan sekolah Katolik pertama di Pulau Bonyom, Distrik Fakfak Tengah. Sekolah tersebut menjadi awal pendidikan formal bagi masyarakat setempat melalui pengajaran membaca, menulis, dan pendidikan iman.
Menanggapi harapan tersebut, Romo J. Sudrijanta, SJ menjelaskan bahwa kehadiran Serikat Yesus di suatu wilayah pada prinsipnya berdasarkan undangan resmi dari pihak keuskupan. Ia juga menyebut jumlah anggota Serikat Yesus di Indonesia saat ini masih terbatas sehingga pelayanan di Papua perlu mempertimbangkan kesiapan tenaga pastoral.
“Kalau memang ada undangan resmi, tentu pihak keuskupan dapat berbicara langsung dengan pimpinan kami, yaitu Provinsial Serikat Yesus,” jelasnya.
Selain pelayanan pastoral, umat Katolik Fakfak juga berharap karya pendidikan Yesuit dapat kembali berkembang di daerah tersebut. Kehadiran kembali Serikat Yesus diharapkan menjadi bagian dari upaya melanjutkan warisan iman, pendidikan, dan pelayanan kemanusiaan di Tanah Papua.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....