Pimpin Perayaan Jumat Agung, Uskup Hilarion Serukan Kasih dan Toleransi
- 03 Apr 2026 22:19 WIB
- Fak Fak
RRI.CO.ID, Fakfak - Umat Katolik di Paroki Santo Yosep Fakfak mengikuti perayaan Jumat Agung yang berlangsung khidmat pada Jumat 3 April 2026. Ibadat yang merupakan bagian dari Tri Hari Suci ini dipimpin langsung oleh Uskup Mgr. Hilarion Datus Lega, didampingi Pastor Paroki Santo Yosep Fakfak, Alex Fabianus.
Sejak awal perayaan, suasana duka begitu terasa. Tanpa lagu pembuka dan sapaan, imam bersama petugas liturgi memasuki gereja dalam keheningan, lalu bersujud di depan altar sebagai simbol kerendahan hati dan ungkapan duka atas sengsara serta wafat Yesus Kristus. Umat pun larut dalam suasana hening, tobat, dan permenungan mendalam.
Jumat Agung menjadi momen penting bagi umat Katolik untuk mengenangkan sengsara dan wafat Kristus di kayu salib sebagai wujud kasih Allah yang total bagi keselamatan manusia. Perayaan ini tidak hanya menghadirkan kembali peristiwa iman, tetapi juga mengajak umat masuk dalam misteri penderitaan Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian ibadat dilanjutkan dengan Liturgi Sabda yang berpuncak pada pembacaan Kisah Sengsara menurut Injil Yohanes (Yoh. 18:1–19:42). Kisah tersebut menggambarkan perjalanan penderitaan Kristus, mulai dari penangkapan hingga wafat di kayu salib, yang dibawakan secara pasio oleh petugas liturgi.

Dalam pesannya, Uskup Hilarion menegaskan Jumat Agung bukan sekadar peringatan liturgis, melainkan panggilan untuk menghidupi kasih Kristus secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Jumat Agung bukan hanya mengenang penderitaan dan wafat Tuhan, tetapi menjadi momentum untuk meneladani kasih-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Kasih itu nyata dalam sikap pengampunan, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama,” ujarnya.
Ia juga mengajak umat untuk berani memikul “salib” kehidupan dengan iman dan pengharapan, seraya percaya bahwa di balik penderitaan terdapat rencana keselamatan Allah.
Salah satu momen yang paling menyentuh adalah penghormatan salib. Salib diarak ke depan altar dan diperlihatkan kepada umat dengan seruan “Lihatlah kayu salib, di sini tergantung Kristus, Penyelamat dunia.” Umat kemudian maju secara bergantian untuk memberikan penghormatan sebagai ungkapan iman, kasih, dan pertobatan.
Perayaan juga diwarnai Doa Umat Meriah, di mana Gereja mendoakan berbagai intensi universal, mulai dari Gereja, para pemimpin bangsa, hingga seluruh umat manusia. Dalam kesempatan itu, Uskup Hilarion turut menekankan pentingnya menjaga toleransi dan kebebasan beragama.
"Sebagai bangsa majemuk, Indonesia memiliki tanggung jawab untuk merawat harmoni sosial. Toleransi harus diwujudkan dalam sikap saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari," tegasnya.
Ibadat kemudian dilanjutkan dengan penerimaan Komuni Suci dari Sakramen Mahakudus yang telah dikonsekrasi pada Misa Kamis Putih. Sakramen tersebut sebelumnya diarak dari Taman Doa menuju altar dalam suasana hening, melambangkan perjalanan Kristus ke Taman Getsemani sebelum sengsara.
Perayaan Jumat Agung ditutup tanpa berkat penutup, dalam keheningan yang mendalam. Gereja berdiam diri dalam duka, menantikan misteri kebangkitan dalam Hari Raya Paskah.
Melalui perayaan ini, umat Katolik di Fakfak diajak untuk semakin menyadari besarnya kasih Allah serta memperbarui komitmen hidup sebagai pengikut Kristus, dengan mengedepankan kasih, pengorbanan, dan pengharapan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....