Wajah Baru Ekonomi Desa Melalui Inovasi Platform Digital

  • 14 Jul 2026 14:56 WIB
  •  Fak Fak

RRI.CO.ID,FAKFAK - Aroma khas rempah pala menyebar lembut ketika kaki kami melangkah memasuki sebuah ruang produksi yang hangat di kawasan Wagom, Distrik Pariwari, Kabupaten Fakfak, pada selasa 13 Juli 2026.

Di sana, di antara lembaran-lembaran kain bermotif etnik fakfak yang menjuntai, sosok perempuan tangguh bernama Kristiana Apriani atau yang akrab dipanggil Ibu Karim tengah sibuk merapikan pesanan.

Di tempat yang ia rintis, Rumah Batik As-Kar Fakfak, sepotong identitas daerah sedang dirawat dan dikembangkan. Tempat ini bukan sekadar pusat oleh-oleh biasa, melainkan rumah bagi mahakarya batik berciri khas Fakfak dan ragam olahan turunan buah pala.

Selama bertahun-tahun, Ibu Karim mengandalkan kunjungan fisik dari warga lokal atau wisatawan yang singgah. Namun, zaman berubah, dan iapun sadar bahwa bertahan dengan cara lama tak akan cukup untuk membuat karya daerahnya "naik kelas". Wajah baru ekonomi Indonesia telah hadir dalam wujud digitalisasi, dan Ibu Karim memilih untuk ikut melompat ke dalamnya.

Langkah berani diambilnya dengan menghubungkan produk-produk Rumah Batik As-Kar ke platform e-commerce Shopee. Smartphone yang dulunya hanya sekadar alat komunikasi, kini disulapnya menjadi etalase toko yang tak pernah tutup. Baginya, digitalisasi adalah kunci bagi UMKM lokal untuk tidak hanya berjaya di negeri sendiri, tapi juga bersiap merambah pasar ekspor.

"Dulu, karya kami cuma bisa dinikmati oleh orang yang datang langsung ke Fakfak. Rasanya sedih kalau produk sebagus ini pasarnya terbatas," ungkap Ibu Karim sambil tersenyum hangat.

"Semenjak saya belajar jualan di Shopee, pesanan bisa datang dari Jawa, Sumatra, bahkan Sulawesi. Ini mimpi saya, supaya batik dan olahan pala Fakfak pelan-pelan bisa diekspor dan dikenal dunia, bukan cuma jago kandang."

Digitalisasi bagi Ibu Karim adalah jembatan penghubung antara kearifan lokal Fakfak dengan denyut nadi ekonomi global.

Namun, kisah sukses di dunia digital tak selalu berjalan mulus seperti jalan tol. Menjadi pedagang online berarti harus siap menghadapi dunia digital yang rawan. Tantangan baru muncul keamanan digital dan ancaman hoaks.

Ibu Karim bercerita bahwa ia dan banyak sesama pelaku UMKM sering kali menjadi sasaran pesan penipuan, tautan (link) palsu yang menjanjikan hadiah, hingga hoaks promo yang bertujuan menguras saldo atau mencuri data toko.

Alih-alih mundur, ia justru membekali dirinya dengan literasi digital. Ia sadar, sebagai wajah baru ekonomi Indonesia, UMKM juga harus cerdas dan waspada. Lebih dari itu, ia menjadikan dirinya sebagai agen edukasi bagi para pembelinya.

"Jualan di internet itu ibarat buka toko di pasar malam yang sangat padat. Kita harus ekstra hati-hati. Saya sering dapat pesan hoaks undian berhadiah atau disuruh klik link aneh-aneh. Saya hiraukan saja," tegas Ibu Karim.

Ia pun kerap menyelipkan pesan edukasi kepada para pelanggannya.

"Saya selalu ingatkan pembeli saya, kalau mau belanja, ikuti saja sistem yang ada di aplikasi. Jangan pernah mau kalau disuruh transfer ke rekening pribadi di luar aplikasi atau percaya hoaks diskon abal-abal yang dikirim lewat pesan berantai. Keamanan itu nomor satu, supaya kita sama-sama enak dan berkah," tambahnya.

Berdirinya Rumah Batik As-Kar Fakfak dan keberanian Kristiana Apriani untuk terjun ke ekosistem digital membuktikan bahwa inovasi tidak mengenal batasan geografis. Dengan memadukan kekayaan budaya lokal, adaptasi platform digital, serta pemahaman yang baik tentang keamanan berinternet, Ibu Karim telah mengambil peran penting dalam mengukir wajah baru ekonomi Indonesia.

Kini, dari Wagom untuk dunia, selembar kain batik dan manisnya olahan pala Fakfak siap bercerita tentang ketangguhan UMKM Indonesia di era digital. ( Apriyantini )

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....