DLH Sanggau Dorong Kolaborasi Hadapi Krisis Iklim

  • 17 Sep 2026 08:41 WIB
  •  Sanggau

RRI.CO.ID, Sanggau - Krisis iklim mulai memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat di Kabupaten Sanggau, perubahan cuaca yang semakin ekstrem, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga dampak terhadap kesehatan menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama. Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian serius karena tidak hanya berdampak pada masyarakat saat ini, tetapi juga berpengaruh terhadap masa depan generasi emas di Sanggau.

Kepala Bidang Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sanggau, Yesaya Poulorossi P. Antang, mengatakan kondisi krisis iklim semakin terasa, terutama ketika terjadi karhutla. Menurutnya, kebakaran hutan dan lahan dapat memperburuk kualitas lingkungan sekaligus memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat, perubahan pola cuaca juga menjadi tantangan karena kondisi panas, kering, dan perubahan cuaca ekstrem dapat meningkatkan kerentanan wilayah terhadap bencana lingkungan.

“Krisis iklim di Sanggau semakin terasa, terutama saat karhutla dan cuaca ekstrem terjadi yang berdampak pada lingkungan serta kesehatan masyarakat, " ungkap Yesaya Poulorossi P. Antang dalam Dialog RRI Sanggau Menyapa, Rabu 16 September 2026.

Ia menjelaskan, dampak terhadap kesehatan menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan, berdasarkan kondisi yang disampaikan, lebih dari 11 ribu warga Kabupaten Sanggau telah terdampak Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan karhutla dan kualitas udara tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga berhubungan langsung dengan keselamatan dan kesehatan masyarakat, karena itu, pencegahan kebakaran dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak yang lebih luas.

Yesaya juga menyebut terdapat kendala dalam pemantauan kondisi lingkungan, salah satunya berkaitan dengan alat pengukur suhu yang merupakan bantuan dari kementerian, peralatan tersebut diketahui sudah mengalami kerusakan dan tidak berfungsi sejak 2025. Kondisi ini menjadi salah satu hambatan dalam memperoleh data pengukuran secara optimal, Di sisi lain, keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi juga membuat ruang gerak pemerintah daerah dalam menjalankan berbagai program lingkungan menjadi terbatas.

Menurutnya, sejumlah program untuk menghadapi perubahan iklim sebenarnya telah direncanakan. Namun, pelaksanaannya belum dapat dilakukan secara luas karena setiap kegiatan membutuhkan dukungan anggaran, keterbatasan tersebut tidak menjadi alasan untuk berhenti bergerak, DLH Kabupaten Sanggau tetap berupaya menjalankan langkah-langkah yang dapat dilakukan dengan sumber daya yang tersedia, khususnya dalam menghadapi karhutla yang terjadi saat ini.

“Karhutla berdampak pada kesehatan, sementara keterbatasan alat dan anggaran menjadi tantangan dalam penanganannya," jelas yesaya.

Ia berharap generasi muda Sanggau ikut mengambil peran dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi pembakaran terbuka, menanam dan merawat pohon, menghemat sumber daya, serta ikut menyebarkan edukasi mengenai pencegahan karhutla.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....