Kualitas Udara Sanggau Masuk Kategori Berbahaya

  • 29 Agt 2026 17:05 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Sanggau – Kualitas udara di Kabupaten Sanggau berada dalam kondisi yang perlu diwaspadai akibat kabut asap Karhutla. Kalak BPBD Sanggau, Didit Richardi, mengatakan berdasarkan laporan Dinas Lingkungan Hidup, ISPU berada di kisaran 300 dan PM2,5 mencapai 545.

“Kalau berdasarkan laporan dari Dinas LH, itu ISPU kita kurang lebih 300, sedangkan PM 2,5 itu 545,” kata Didit di Pos Komando Satgas Penanggulangan Bencana Karhutla Kabupaten Sanggau, TRC BPBD Sanggau, Sabtu 29 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut apabila dikonversikan ke tingkat kualitas udara bagi kesehatan sudah berada pada kategori berbahaya. Disebutkan, kondisi ini menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam penanganan bencana asap akibat Karhutla di Kabupaten Sanggau.

“Itu kalau di kita konversi ke tingkat kualitas bagi kesehatan, itu sudah berbahaya. Karena berbahaya itu adalah 300 ke atas,” ujarnya.

Didit menyampaikan, kondisi kualitas udara tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat, terutama dalam melakukan aktivitas di luar ruangan. Ia mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar untuk mengurangi paparan kabut asap.

“Tadi Pak Kadis Kesehatan juga menyampaikan hendaknya kita batasi aktivitas kita di luar. Seandainya terpaksa kita melakukan aktivitas di luar, itu kita imbau agar menggunakan masker sesuai standar,” jelasnya.

Selain membatasi aktivitas luar ruangan dan menggunakan masker, ia juga mendorong agar masyarakat menjaga kondisi tubuh dengan memenuhi kebutuhan gizi. Menurutnya, asupan makanan bergizi dan vitamin diperlukan untuk membantu menjaga daya tahan tubuh di tengah kondisi udara yang kurang baik.

“Dan juga untuk selalu memberi asupan gizi untuk ketahanan tubuh kita. Jadi vitamin, segala macam, makanan yang bergizi jangan lupa supaya kita daya tahan tubuh kita juga tinggi,” katanya.

Ia menambahkan, dampak bencana asap juga perlu diantisipasi karena tidak hanya berkaitan dengan gangguan pernapasan. Berdasarkan informasi yang diterima Satgas, selain kasus ISPA, kondisi tersebut juga disertai peningkatan kasus diare akibat berkurangnya ketersediaan air bersih.

“Karena selain ISPA yang jumlahnya semakin meningkat, juga diare. Akibat dari ini juga menimbulkan diare karena air bersih kita ini semakin kurang debitnya,” ungkapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....