Satgas Karhutla Sanggau Terapkan Satu Data Hotspot

  • 29 Agt 2026 17:03 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Sanggau – Satgas Penanggulangan Bencana Karhutla Kabupaten Sanggau menyiapkan mekanisme satu data hotspot untuk mendukung penanganan Karhutla. Kalak BPBD Sanggau, Didit Richardi, mengatakan data dari tiga sumber pemantauan akan diverifikasi di lapangan sebelum ditetapkan sebagai titik hotspot terkonfirmasi.

“Kalau titik hotspot, kami sepakat di tim satgas ini akan memakai tiga sumber. Jadi tidak kami bedakan mana yang benar atau yang salah,” kata Didit di Pos Komando Satgas Penanggulangan Bencana Karhutla Kabupaten Sanggau, TRC BPBD Sanggau, Sabtu 29 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, tiga sumber data tersebut berasal dari BRIN dan BMKG, aplikasi Lancang Kuning milik Polri, serta Sipongi dari Kementerian Kehutanan. Seluruh data tersebut masih bersifat belum terverifikasi sehingga perlu dilakukan pengecekan langsung di lapangan.

“Yang pertama dari BRIN dan BMKG, yang kedua dari Lancang Kuning milik Polri, kemudian yang ketiga dari Sipongi dari Kementerian Kehutanan. Ini semua adalah data yang belum terverifikasi di lapangan,” ujarnya.

Ia menyampaikan, verifikasi atau ground check akan dilakukan oleh unsur di tingkat kecamatan bersama Koramil dan Polsek. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan titik yang terdeteksi dari aplikasi benar-benar merupakan hotspot atau titik api di lapangan.

“Nah, yang kami inginkan di tim satgas ini akan ada verifikasi lapangan, ground check oleh kawan-kawan dari kecamatan, yaitu Pak Camat, lalu dari Koramil, dan dari Polsek agar data yang dari tiga aplikasi ini setelah terverifikasi jumlahnya pasti adalah itu benar-benar merupakan titik hotspot,” jelasnya.

Didit mengatakan perbedaan data dari ketiga sumber tidak langsung menjadi jumlah hotspot terkonfirmasi di Kabupaten Sanggau. Hasil verifikasi lapangan nantinya menjadi dasar untuk menentukan titik yang benar-benar dapat ditetapkan sebagai hotspot.

“Jadi tidak distorsi di lapangan. Misalnya kita temukan ternyata titik hotspot itu adalah cerobong asap, itu kita keluarkan dari titik api yang belum terverifikasi, dan terverifikasi itu itulah yang dikeluarkan. Itu kemungkinan berkurang,” katanya.

Ia mencontohkan, laporan sementara menunjukkan Lancang Kuning mencatat 63 titik, sedangkan Sipongi dan BRIN masing-masing mencatat 123 titik. Perbedaan tersebut akan diselaraskan melalui proses verifikasi sehingga data yang digunakan Satgas menjadi lebih akurat.

“Kalau kami laporkan di sini, dari Lancang Kuning 63 titik, kemudian dari Sipongi 123, dari BRIN juga 123. Ini kan ada beda, tapi nanti mungkin di terverifikasi itu pasti menurun jumlah dari titik hotspot,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....