Open Dumping Ancam Kesehatan Pengelolaan Sampah Harus Dibenahi
- 04 Agt 2026 13:14 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong - Open dumping menyebabkan sampah menumpuk tanpa sistem pengelolaan yang baik. Ketika sampah dibiarkan terbuka, air hujan dapat membawa zat berbahaya dari tumpukan sampah dan mencemari tanah serta sumber air di sekitarnya. Cairan hasil pembusukan sampah atau lindi dapat mengandung berbagai bahan kimia berbahaya yang berpotensi mengganggu kualitas air dan membahayakan kehidupan manusia maupun makhluk hidup lainnya.
Dosen Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Pontianak, Suharno, mengatakan bahwa praktik open dumping memiliki risiko tinggi terhadap pencemaran tanah, air, dan udara akibat timbunan sampah yang tidak dikelola secara benar. Menurutnya, tumpukan sampah terbuka dapat menghasilkan air lindi yang meresap ke dalam tanah dan mencemari sumber air di sekitarnya, selain itu, pembusukan sampah juga menghasilkan gas metana yang berpotensi menimbulkan bau tidak sedap, meningkatkan risiko kebakaran, serta berkontribusi terhadap pencemaran udara.
| Baca juga: Dua Desa di Balai Segera menuju Status ODF |
"Praktik open dumping tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan masyarakat, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar lokasi TPA, karena itu, sistem ini memang sudah seharusnya ditinggalkan," ungkap Suharno dalam Dialog RRI Sanggau Menyapa RRI Sanggau, Selasa 4 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, lingkungan yang dipenuhi timbunan sampah terbuka juga menjadi tempat berkembang biaknya berbagai vektor penyakit, seperti lalat, tikus, dan nyamuk, yang dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit berbasis lingkungan, di antaranya diare, infeksi saluran pencernaan, penyakit kulit, hingga demam berdarah. Penerapan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik, seperti controlled landfill maupun sanitary landfill, menjadi solusi yang perlu segera diwujudkan oleh pemerintah daerah, sistem tersebut mampu mengurangi pencemaran lingkungan karena sampah dikelola secara lebih terkendali dan memenuhi standar kesehatan lingkungan.
"Pemerintah daerah perlu melakukan pembenahan pengelolaan TPA secara bertahap, memang membutuhkan anggaran dan waktu, tetapi manfaatnya sangat besar bagi kesehatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan," jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi memerlukan keterlibatan aktif masyarakat melalui kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah dan mengurangi penggunaan barang sekali pakai. Selain itu, penerapan prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R) dalam kehidupan sehari-hari menjadi langkah penting untuk mengurangi jumlah sampah serta menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
Suharno berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah terus meningkat sehingga upaya penghentian praktik open dumping dapat berjalan seiring dengan perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
“Pengelolaan sampah membutuhkan kolaborasi pemerintah dan masyarakat melalui penerapan 3R serta perubahan perilaku untuk menghentikan open dumping dan menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....