DKPTHP Sanggau Dorong Pekarangan Bergizi Kurangi Limbah Rumah Tangga

  • 18 Mei 2026 09:21 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong - Program Pekarangan Pangan Bergizi yang dijalankan Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perikanan (DKPTHP) Kabupaten Sanggau terus diarahkan tidak hanya untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga, tetapi juga mengurangi limbah rumah tangga. Pemanfaatan limbah organik dapur menjadi pupuk kompos dinilai mulai berkembang di masyarakat meski penerapannya belum merata di seluruh wilayah desa.

Kepala Bidang Penyuluhan DKPTHP Kabupaten Sanggau, Minarman Minok mengatakan bahwa masyarakat yang menjadi kelompok dampingan mulai dikenalkan dengan pengolahan sampah organik rumah tangga menjadi pupuk sederhana untuk kebutuhan pekarangan. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar masyarakat dapat memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi sumber pupuk murah guna mendukung produksi pangan keluarga.

“Melalui pendampingan penyuluh pertanian lapangan, masyarakat mulai dilatih membuat kompos dan memanfaatkan limbah dapur untuk kebutuhan tanaman pekarangan,” ungkap Minarman Minok dalam Dialog RRI Sanggau Menyapa, Senin 18 Mei 2026.

Ia menjelaskan bahwa pihaknya terus melakukan pendampingan melalui pelatihan pembuatan kompos, penggunaan ember komposter, hingga praktik langsung pengolahan limbah organik rumah tangga. Namun demikian, pihaknya mengakui belum semua masyarakat mampu menjalankan pengolahan limbah secara mandiri dan berkelanjutan karena masih terbatasnya pengetahuan serta kebiasaan memilah sampah rumah tangga.

Selain limbah rumah tangga, kata Minarman, Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perikanan (DKPTHP) juga melihat potensi besar limbah perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Sanggau. Limbah seperti tandan kosong, pelepah sawit, dan abu boiler dinilai dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik maupun media tanam untuk mendukung program pekarangan pangan bergizi.

“Potensi limbah sawit cukup besar dan ke depan diharapkan dapat dimanfaatkan tidak hanya oleh perusahaan perkebunan, tetapi juga mendukung pertanian skala rumah tangga,” katanya.

Diakui Minarman, tantangan utama di lapangan bukan hanya soal ketersediaan bahan baku, tetapi juga keterbatasan alat pengolah kompos dan rendahnya pemahaman masyarakat terkait pengolahan limbah organik. Karena itu, pemerintah daerah akan terus memperkuat penyuluhan dan pengembangan teknologi pengolahan limbah sederhana di tingkat desa.

Tambahnya, respons masyarakat terhadap program pekarangan pangan bergizi disebut cukup positif. Kelompok perempuan dan ibu rumah tangga menjadi pihak yang paling aktif dalam kegiatan penanaman sayur, pengolahan pupuk organik, hingga pemanfaatan hasil panen untuk kebutuhan konsumsi keluarga sehari-hari.

“Harapannya program ini mampu menjadi solusi jangka panjang bagi ketahanan pangan keluarga sekaligus membantu mengurangi persoalan limbah rumah tangga di masyarakat,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....