Ramadan Momentum Tarbiyah Melalui Puasa dan Al-Qur’an

  • 09 Mar 2026 14:18 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong – Bulan Ramadan merupakan momentum tarbiyah atau pendidikan spiritual bagi umat Islam, di mana melalui ibadah puasa dan interaksi yang intens dengan Al-Qur’an, setiap muslim dilatih untuk memperbaiki diri, menata hati, serta meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah SWT. Ramadan tidak sekadar menghadirkan kewajiban menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi sarana pembinaan jiwa

Hal tersebut disampaikan oleh Ustadz Dede Ruslandi, Da'i 3T Kementrian Agama RI dalam Obrolan Mutiara pagi RRI SP Sanggau, Senin 9 Maret 2026. Ia menjelaskan bahwa puasa berfungsi sebagai latihan pengendalian diri, sementara Al-Qur’an menjadi pedoman yang membimbing manusia menuju kehidupan yang lebih bermakna, sehingga Ramadan sejatinya adalah madrasah yang membentuk pribadi muslim yang berahklak mulia.

"Mau tidak mau suka tidak suka suatu saat jatah kita ini akan selesai umur kita akan habis semua akan kembali pada Allah SWT, oleh karenanya perlu kita persiapkan selian dunia dan persiapkan kehiduapn akhirat," ujarnya.

Ustadz Dede jmenyebut bahwa Jangan sampai manusia terlena oleh gemerlap kehidupan dunia, sibuk mempersiapkan berbagai kebutuhan duniawi, namun melupakan bahwa setelah kehidupan ini ada kehidupan akhirat yang jauh lebih kekal. Karena itu, setiap insan hendaknya mampu menyeimbangkan antara usaha meraih kebaikan di dunia dengan mempersiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat, melalui amal salehnya.

Ia menjelaskan bahwa bumi beserta segala isinya adalah milik Allah SWT dan pada akhirnya seluruh manusia akan kembali kepada-Nya, karena itu, manusia diingatkan agar tidak terjebak pada kebanggaan terhadap kemewahan dunia semata. Menurutnya, seseorang mungkin mampu membangun rumah yang sangat megah, namun tidak selalu dapat membeli ketenangan hidup.

Untuk itu jelas Dede, bawah demikian pula manusia bisa membeli tempat tidur yang mahal dan empuk, tetapi tidak selalu mampu membeli rasa nyenyak dalam tidur. Hal tersebut, menjadi pengingat bahwa kebahagiaan dan ketenangan sejati tidak semata-mata ditentukan oleh harta, melainkan oleh kedekatan manusia dengan Allah SWT.

"Sejatinya kita hanya bisa berikhtiar, kita hanya bisa melakukan yang bisa kita lakukan sisanya kita serahkan kepada Allah SWT, Kemudian puasa juga mentarbiyah kita menjadi sesorang yang senantiasa empati terhadap orang lain," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....