Sering Membandingkan Diri di Media Sosial? Ingat Bedakan Urusan Dunia dan Akhirat

  • 15 Mar 2026 10:53 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong - Fenomena arus informasi di media sosial yang begitu deras kerap membuat banyak anak muda tanpa sadar membandingkan kehidupannya dengan orang lain yang tampak lebih sukses. Deretan pencapaian, gaya hidup, hingga kesuksesan yang dipamerkan di ruang digital sering kali memicu rasa gelisah, bimbang, seolah-olah hidup sendiri tertinggal jauh dari orang lain.

Komandan PASKAS (Pasukan Amal Sholeh) Mempawah, Restu Abi, menilai perasaan itu muncul karena generasi muda sering menjadikan pencapaian orang lain di media sosial sebagai tolok ukur kebahagiaan dan tidak memahami hakikat persoalan yang sedang dihadapi. Padahal tidak semua hal yang tampak di dunia maya benar-benar mencerminkan realitas kehidupan yang sesungguhnya, apa yang ditampilkan di media sosial sering kali hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang.

“Banyak anak muda hari ini merasa bimbang dengan masa depannya karena melihat orang lain terlihat berhasil di media sosial. Padahal Allah sudah menentukan jalan hidup setiap manusia dengan cara yang berbeda.” ungkap Restu Abi dalam Obrolan Tauladan Pro 2 RRI Sanggau, Jumat 13 Maret 2026.

Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain kata Restu, perlu disikapi dengan bijak dan memahami akar persoalan yang sebenarnya dapat diurai dengan cara sederhana, yakni menarik terlebih dahulu benang merah dari persoalan yang dirasakan. Ia mengatakan seseorang perlu melihat secara jernih apakah kegelisahan yang muncul berkaitan dengan urusan dunia atau justru berkaitan dengan urusan akhirat.

“Kalau perkara dunia, lihatlah ke bawah agar kita bisa bersyukur dengan apa yang dimiliki. Tetapi kalau perkara akhirat, lihatlah ke atas supaya kita termotivasi untuk menjadi lebih baik.” jelasnya.

Ia mengatakan, cara pandang tersebut penting agar seseorang tidak mudah terperangkap dalam perasaan iri, minder, ataupun rendah diri ketika melihat keberhasilan orang lain. Dengan memahami batas antara kebutuhan dunia dan tujuan akhirat, seseorang akan lebih mampu menempatkan perasaan secara proporsional serta menjaga ketenangan hati.

“Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” katanya.

Restu Abi berharap generasi muda dapat lebih bijak dalam menggunakan media sosial serta tidak menjadikannya sebagai standar keberhasilan hidup. Ia juga mengimbau agar anak muda memperkuat rasa syukur dan menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk memperbaiki diri serta memperkuat hubungan dengan Allah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....