Kontras Perbedaan Ramadan Dulu dan Kini, Sahabat Nabi Takut Amal Tidak Diterima
- 11 Mar 2026 12:04 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong - Ramadan pada masa Rasulullah SAW dijalani dengan kesungguhan dan kesadaran spiritual yang sangat mendalam oleh para sahabat. Bahkan setelah bulan suci itu berakhir, mereka masih diliputi rasa khawatir dan terus berdoa agar amal ibadah yang telah dilakukan selama Ramadan benar-benar diterima oleh Allah SWT.
Penyuluh Agama Islam Kecamatan Meliau Rahmadhani Adiyatma, menjelaskan bahwa semangat beribadah pada masa Rasulullah justru semakin meningkat ketika Ramadan memasuki sepuluh hari terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut sangat kontras dengan fenomena yang sering terlihat saat ini, ketika sebagian umat justru mulai disibukkan dengan berbagai persiapan menyambut Hari Raya Idulfitri.
“Di zaman Rasulullah, ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan, para sahabat justru semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah. Mereka mengencangkan ikat pinggangnya, memperbanyak doa, serta menangis memohon ampun karena khawatir Ramadan akan berlalu tanpa membawa ampunan bagi mereka,” ujar Rahmadhani dalam Obrolan Tauladan Pro 2 RRI Sanggau, Selasa, 10 Maret 2026.
Kesungguhan para sahabat kata Rahmadhani, dalam menjalani Ramadan tidak berhenti saat bulan suci itu usai. Ia menjelaskan, para sahabat bahkan masih memikirkan kualitas ibadah mereka selama berbulan-bulan setelah Ramadan berlalu.
“Para sahabat tidak hanya beribadah dengan maksimal selama Ramadan, tetapi juga terus merasa khawatir apakah amal mereka diterima oleh Allah. Bahkan hingga enam bulan setelah Ramadan, mereka masih berdoa agar ibadah yang telah dilakukan benar-benar diterima,” jelasnya.
Rahmadhani mengungkapkan bahwa pada masa Rasulullah, Ramadan benar-benar menjadi pusat kehidupan spiritual umat Islam. Ia katakan, para sahabat menghabiskan enam bulan setelah Ramadan untuk mengevaluasi diri dan merenungi kualitas amal mereka, sementara enam bulan berikutnya digunakan untuk mempersiapkan diri menyambut Ramadan yang akan datang.
“Bagi para sahabat, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah biasa, melainkan poros kehidupan spiritual sepanjang tahun. Setelah Ramadan mereka mengintrospeksi diri, dan sebelum Ramadan mereka mempersiapkan diri agar bisa menyambutnya dengan amal yang lebih baik,” ucapnya.
Rahmadhani berharap umat Islam masa kini dapat mengambil pelajaran dari semangat para sahabat dalam memaknai Ramadan. Ia meminta masyarakat tidak hanya terfokus pada kemeriahan menyambut Lebaran, tetapi juga memanfaatkan sisa Ramadan untuk memperbanyak ibadah, memperkuat keimanan, serta memohon ampunan kepada Allah agar Ramadan benar-benar membawa perubahan dalam kehidupan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....