Risiko Kesehatan Paparan Air Hujan Buatan di Musim Kemarau

  • 09 Sep 2026 21:24 WIB
  •  Sanggau

RRI.CO.ID,Sanggau - Hujan buatan melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) kerap menjadi solusi utama pemerintah untuk mengatasi kekeringan ekstrem dan polusi udara di musim kemarau. Proses ini dilakukan dengan menyemai bahan kimia, seperti garam penyemaian (sodium chloride) atau zat higroskopis lainnya, ke dalam awan potensial. Meskipun bertujuan baik untuk memicu presipitasi, paparan langsung dari air hujan buatan ini tetap menyimpan beberapa risiko kesehatan bagi manusia yang perlu diwaspadai.

Risiko utama berasal dari kandungan konsentrasi bahan kimia yang digunakan dalam proses penyemaian awan. Saat hujan turun untuk pertama kalinya setelah penyemaian, air membawa sisa-sisa zat kimia serta partikel polutan yang melayang di udara. Kontak langsung antara kulit dengan air hujan buatan yang pekat ini dapat memicu reaksi iritasi kulit, seperti ruam, gatal-gatal, hingga peradangan, terutama bagi individu yang memiliki kulit sensitif atau riwayat alergi.

Selain masalah kulit, air hujan buatan berisiko menimbulkan gangguan pada sistem pernapasan. Tetesan air yang membawa partikel kimia halus dan polutan terlarut dapat terhirup saat seseorang berada di luar ruangan tanpa perlindungan. Hal ini berpotensi mengiritasi saluran pernapasan, memicu batuk, sesak napas, hingga memperburuk kondisi penderita asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) yang terpapar uap air hujan tersebut.

Paparan air hujan buatan pada area wajah juga berisiko menyebabkan iritasi pada mata. Bahan higroskopis terlarut yang mengenai kornea mata dapat menimbulkan sensasi perih, mata merah, dan pembengkakan ringan. Jika mata yang terpapar langsung dikucek dengan tangan yang kotor, risiko infeksi mata sekunder seperti konjungtivitis akan meningkat signifikan akibat masuknya partikel asing dan bakteri.

Sektor pencernaan turut menjadi area yang rawan jika air hujan buatan tidak sengaja tertelan atau dikonsumsi. Air hujan buatan yang ditampung tanpa pengolahan memadai sangat tidak aman untuk diminum atau digunakan memasak. Kandungan garam konsentrasi tinggi, sisa bahan penyemai, serta polutan udara yang terlarut di dalamnya dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti mual, muntah, hingga sakit perut.

Sistem imun tubuh juga dapat mengalami penurunan daya tahan secara mendadak akibat paparan suhu dingin yang tiba-tiba. Di tengah cuaca kemarau yang menyengat, perubahan suhu drastis saat basah kuyup oleh air hujan buatan memaksa tubuh beradaptasi secara cepat. Kondisi hipotermia ringan atau penurunan suhu tubuh ini kerap menjadi celah bagi virus flu dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) untuk berkembang lebih cepat.

Guna meminimalkan berbagai risiko kesehatan tersebut, masyarakat diimbau untuk segera berteduh saat hujan buatan turun dan membilas diri dengan air bersih jika terlanjur terpapar. Menghindari penggunaan air hujan buatan untuk kebutuhan konsumsi harian tanpa proses penyaringan standar juga menjadi langkah krusial. Dengan kewaspadaan yang tepat, manfaat hujan buatan dalam meredakan kekeringan dapat dirasakan tanpa harus mengorbankan kesehatan diri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....