Kabut Asap Tebal, ISPA Entikong Meningkat Tiga Kali Lipat
- 21 Agt 2026 21:28 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Sanggau - Penyebaran penyakit dan virus tidak mengenal batas wilayah maupun kondisi masyarakat. Di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang semakin tebal di wilayah perbatasan Entikong, masyarakat diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai risiko gangguan kesehatan serta memperkuat kebiasaan hidup bersih dan sehat.
Tenaga Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku Puskesmas Entikong, Mikael Kurniawan, mengatakan kondisi kualitas udara yang memburuk membuat masyarakat perlu meningkatkan perlindungan diri, salah satunya melalui penggunaan masker ketika beraktivitas di luar ruangan. Menurutnya, masker menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi paparan debu, asap, dan partikel pencemar udara.
“Virus dan penyakit tidak mengenal batas, karena dalam kondisi kabut asap seperti sekarang, masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan dan membiasakan pola hidup sehat, termasuk menggunakan masker untuk mengurangi paparan terhadap udara yang tidak baik,” ungkap Mikael Kurniawan dalam Obrolan Indonesia Sehat RRI Sanggau, Jumat 21 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, sebagai bagian dari upaya perlindungan masyarakat, tim kesehatan bersama Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan atau Forkopimcam Entikong telah membagikan sekitar 500 masker kepada masyarakat di wilayah perbatasan. Pembagian masker tersebut dilakukan sebagai respons terhadap kondisi kabut asap yang semakin tebal dan kualitas udara yang menunjukkan kondisi tidak sehat.
Disampaikan, berdasarkan data kualitas udara yang diterima tim kesehatan, kondisi udara di wilayah tersebut sempat berada pada angka 182 atau masuk kategori sangat tidak sehat. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena paparan asap dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan.
“Jangan sampai masker hanya digunakan ketika dibagikan, masyarakat harus memahami bahwa ketika kualitas udara sedang tidak baik, perlindungan diri tetap diperlukan,” jelasnya.
Selain dampak kabut asap, Mikael juga menyebut, perubahan kondisi lingkungan akibat kemarau panjang juga berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. Berkurangnya ketersediaan sumber air dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk penyakit diare apabila kualitas dan kebersihan air yang digunakan masyarakat tidak terjaga.
Ia mengungkapkan, kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA di wilayah kerja Puskesmas Entikong mengalami peningkatan hingga sekitar tiga kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi tersebut menjadi perhatian tenaga kesehatan karena terjadi bersamaan dengan memburuknya kualitas udara dan kondisi kemarau yang berlangsung cukup panjang.
Mikael mengajak masyarakat untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mencukupi kebutuhan air bersih, menjaga pola makan, serta menggunakan masker ketika kualitas udara memburuk. Masyarakat juga diminta membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap semakin pekat.
“ISPA meningkat tiga kali lipat, mari gunakan masker dan jaga hidup sehat di tengah kabut asap," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....