Kaligrafi Digital MTQ Wajib Tunjukkan Kemampuan Asli
- 27 Jul 2026 21:21 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong - Pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) turut menghadirkan tantangan baru dalam dunia seni, termasuk kaligrafi Al-Qur'an. Menjawab tantangan tersebut, cabang Kaligrafi Digital pada Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) tetap mewajibkan peserta menunjukkan kemampuan menulis kaligrafi secara manual sebagai bentuk pembuktian keaslian karya.
Siti Fatimah, kaligrafer mengatakan, Kaligrafi Digital merupakan cabang baru dalam MTQ yang memadukan perkembangan teknologi dengan seni kaligrafi Al-Qur'an. Ia mengaku beralih dari cabang naskah ke Kaligrafi Digital karena tertarik mempelajari tantangan baru tersebut.
"Sebelumnya saya mengikuti cabang naskah, tetapi sekarang berpindah ke Kaligrafi Digital karena MTQ menghadirkan cabang baru ini. Saya tertarik mendalaminya karena menjadi tantangan baru sekaligus kesempatan mengembangkan kemampuan di era digital," ujar Fatimah Obrolan Sore Ceria RRI Pro 2 Sanggau, Senin 27 Juli 2026.
Fatimah menjelaskan, peserta memang diperbolehkan menggunakan perangkat digital seperti iPad, tablet, atau laptop untuk membuat karya. Namun, penggunaan teknologi tidak menghilangkan tuntutan penguasaan kaidah kaligrafi, mulai dari proporsi huruf, teknik penulisan, hingga ketepatan bentuk setiap khat.
"Selain menyerahkan hasil karya digital, peserta juga diminta menulis kaligrafi secara manual. Hal itu untuk memastikan bahwa karya yang dibuat benar-benar berasal dari kemampuan peserta, bukan hasil AI ataupun karya milik orang lain," jelas Fatimah.
Mekanisme tersebut menunjukkan bahwa teknologi hanya menjadi media berkarya, bukan pengganti kemampuan seorang kaligrafer. Menurutnya, setiap peserta tetap dituntut memahami kaidah kaligrafi Al-Qur'an karena aspek tersebut menjadi dasar utama dalam penilaian perlombaan.
"Walaupun menggunakan media digital, peserta tetap harus menguasai kaidah kaligrafi dengan baik. Teknologi hanyalah alat bantu, sedangkan kemampuan menulis dan memahami kaligrafi tetap menjadi yang paling utama," katanya.
Ia berharap, kehadiran cabang Kaligrafi Digital mampu menarik lebih banyak generasi muda untuk mempelajari seni kaligrafi Al-Qur'an sekaligus memanfaatkan teknologi secara bijak. Menurutnya, inovasi tersebut membuktikan bahwa perkembangan digital dan AI dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian seni Islam, selama keaslian karya, kemampuan peserta, dan nilai-nilai kaligrafi tetap dijaga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....