Ini Perbedaan Karya Tulis Ilmiah Umum dengan Al Quran

  • 02 Okt 2026 21:50 WIB
  •  Sanggau

RRI.CO.ID, Sanggau - Karya tulis ilmiah Al Quran dan hadis mungkin terdengar berbeda dari karya tulis ilmiah pada umumnya karena membawa sumber keislaman dalam pembahasannya. Namun, penulis karya tulis ilmiah berprestasi, Qory Fasdatul Jannah menjelaskan bahwa keduanya tetap memiliki dasar ilmiah yang sama, mulai dari penggunaan data hingga proses analisis.

Lulusan program studi Ilmu Al Quran dan Tafsir IAIN Pontianak tersebut mengatakan, karya tulis ilmiah Al Quran maupun hadis tetap menggunakan sejumlah unsur yang terdapat dalam karya ilmiah pada umumnya. Perbedaannya terletak pada karakter penulisan dan sasaran pembaca yang ingin dijangkau melalui karya tersebut.

“Sebenarnya sama aja dengan karya tulis ilmiah pada umumnya. Cuman di sini kita tetap bermain data, tetap bermain teori, tetap ada analisis,” ujar Qory dalam Obrolan Sore Ceria RRI Pro 2 Sanggau, Jumat, 2 Oktober 2026.

Qory menjelaskan, karya tulis ilmiah tetap memiliki bagian-bagian penting seperti kesimpulan, solusi, dan saran yang menjadi bagian dari proses pengolahan sebuah persoalan. Pada KTI Al Quran maupun KTI hadis, unsur-unsur tersebut tetap digunakan, tetapi penulis juga mengaitkan persoalan yang dikaji dengan sumber Al Quran atau hadis yang relevan.

“Bakal tetap ada yang namanya kesimpulan, solusi, dan saran. Seperti itu tetap ada, cuman untuk di karya tulis ilmiah Quran, ataupun karya tulis ilmiah hadis, khususnya di MTQ atau STQ, itu sifatnya ilmiah populer,” kata Qory.

Ia mengatakan, istilah ilmiah populer menjadi salah satu karakter yang membedakan karya tulis tersebut dari tulisan akademik yang sangat teknis. Bahasa yang digunakan dibuat lebih mengalir dan mudah dipahami sehingga pembahasan tidak hanya dapat dinikmati kalangan akademisi, tetapi juga masyarakat umum.

Qory mencontohkan, tulisan ilmiah populer dapat mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan kemudian membahasnya dengan bahasa yang lebih ringan. Dengan pendekatan tersebut, konsep atau pembahasan yang bersifat ilmiah tetap dipertahankan tanpa membuat pembaca dari kalangan umum kesulitan memahami gagasan yang disampaikan.

“Kalau misalkan di MTQ ini, ataupun di STQ, itu kita harus menggunakan bahasa yang ilmiah populer. Agar semua kalangan masyarakat dapat mengerti maksud dari karya ilmiah kita,” ungkapnya.

Dalam proses pembuatannya, Qory menyarankan penulis terlebih dahulu menemukan persoalan atau fenomena yang hendak dikaji, kemudian mempersempitnya menjadi pertanyaan yang lebih spesifik. Setelah itu, penulis dapat mencari konsep Al Quran atau hadis yang relevan, mengumpulkan data dari literatur maupun lapangan, serta menggunakan penelitian pendukung untuk memperkuat pembahasan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....