Tak Cukup Mengandalkan Frekuensi, Begini Cara Radio Bertahan di Era Digital

  • 24 Agt 2026 22:25 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Sanggau - Di tengah derasnya arus media sosial, generasi muda kini semakin mudah menemukan musik, informasi hingga hiburan hanya melalui layar ponsel. Perubahan kebiasaan tersebut turut menjadi tantangan bagi radio untuk tetap dikenal dan dekat dengan pendengar muda yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital.

Penyiar Radio Sonora Pontianak, Husnul Arif, mengatakan perubahan zaman membuat pola interaksi antara radio dan pendengar ikut bergeser. Jika dahulu pendengar radio memiliki komunitas dan aktif berinteraksi melalui pesan singkat, kini komunikasi semakin banyak berlangsung melalui berbagai platform digital.

“Dulu ketika saya menjadi pendengar itu ada kita komunitasnya ada gitu, jadi memang ada komunitasnya tersendiri. Tapi sekarang udah mulai bergeser mungkin ya, karena memang udah kayak mungkin zamannyalah, ya,” kata Arif dalam Obrolan Sore Ceria RRI Pro 2 Sanggau, Senin, 24 Agustus 2026.

Arif menjelaskan, perubahan tersebut bukan berarti radio kehilangan pendengar, melainkan cara audiens berinteraksi dengan radio telah mengalami perkembangan. Pendengar yang sebelumnya hanya mengandalkan SMS kini dapat terhubung melalui WhatsApp, TikTok hingga YouTube.

Ia mengatakan kondisi tersebut justru menjadi peluang bagi radio untuk mengikuti kebiasaan generasi yang semakin akrab dengan media digital. Kehadiran radio di berbagai platform memungkinkan siaran tidak hanya didengarkan melalui frekuensi, tetapi juga disaksikan dan diikuti melalui ruang digital.

“Teman-teman di Pontianak atau pendengar radio gitu ya, cara requestnya sekarang itu pakai voice note. Itu biasanya pendengar seneng banget, jadi kita putarin di on air suara voice note-nya tadi,” ujarnya.

Menurut Arif, kreativitas dalam membangun interaksi menjadi salah satu cara agar radio tetap memiliki tempat di tengah banyaknya pilihan hiburan digital. Penyiar juga perlu memahami kebiasaan pendengar dan menghadirkan bentuk komunikasi yang terasa dekat dengan keseharian mereka.

Ia mengungkapkan, perkembangan teknologi juga membuat penyiar dapat menjangkau pendengar melalui lebih banyak saluran sekaligus. Dengan memanfaatkan YouTube, TikTok dan platform lainnya, radio berpeluang memperkenalkan kembali dunia siaran kepada generasi yang mungkin lebih mengenal konten digital dibandingkan siaran radio konvensional.

Arif berharap, radio tidak hanya bertahan dengan cara lama, tetapi mampu beradaptasi tanpa kehilangan karakter utamanya sebagai media yang dekat dengan pendengar. Perpaduan antara kekuatan radio dan ekosistem digital dinilai dapat menjadi jalan agar radio tetap dikenal, terutama oleh generasi muda yang menjadi bagian penting dari masa depan industri media.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....