Pipil Jagung Perbatasan untuk Ketahanan Pangan

  • 17 Sep 2026 21:58 WIB
  •  Sanggau

RRI.CO.ID, Sanggau – Senyum merekah dari wajah Yohanes Purwanto, petani jagung di Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, perbatasan Kalimantan Barat dengan Malaysia. Dia puas menyaksikan lahan yang diolahnya bersama Polsek Sekayam menghasilkan jagung melimpah.

Meski kemarau panjang mengeringkan bumi perbatasan tahun ini, namun jagung yang ditanam Yohanes tetap berbuah. Yohanes Purwanto mengatakan, kemarau kali ini bukan tantangan besar dalam mengembangkan budidaya jagung menuju ketahanan pangan dan swasembada.

“Kalau tantangan petani, yang pertama modal ya. Yang kedua, ke mana mau dijual, jadi petani itu istilahnya tidak ragu-ragu. Untuk sekarang ini bagus ya pemasarannya, tidak seperti dulu. Cuma kalau bisa, kami petani diberi pelatihan supaya lebih paham teknik bertani di kondisi kering (kemarau-red) begini,” kata Yohanes Purwanto, Kamis 17 September 2026.

Swasembada pangan jadi program utama Presiden Prabowo Subianto melalui Asta-Citanya. Seluruh daya dimaksimalkan untuk mencapai target Indonesia berdaulat dari sisi pangan, termasuk memaksimalkan potensi dari perbatasan negeri. Kapolsek Sekayam, AKP. Sutikno menyampaikan, budidaya jagung yang telah dilakukan Polri bersama Yohanes Purwanto diharapkan dapat diikuti oleh petani lainnya di perbatasan.

“Semoga desa-desa mengikuti langkah yang dilakukan oleh Polsek dan Pak Purwanto ini. Supaya meningkatkan pangan kita yang merupakan program Bapak Presiden,” ujar AKP. Sutikno.

Tanah perbatasan memiliki potensi menguntungkan untuk budidaya jagung. Geografis yang berdekatan dengan luar negeri, sangat mendukung untuk pengembangan jagung. Namun, menurut Penyuluh Pertanian Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Sekayam, Nikodemus Rano, teknik budidaya, pengolahan tanah, pemupukan, dan pemilihan bibit perlu disesuaikan dengan kondisi lahan.

“Budidaya jagung hibrida yang kita lakukan selama ini cukup mendukung di Kecamatan Sekayam itu di Desa Kenaman, itu kita selalu lakukan dengan pengolahan tanah. Perlu kita lakukan dengan pemupukan dan pemilihan varietas bibit unggul yang cukup mendukung,” jelas Nikodemus Rano.

Sekata dengan penyuluhnya, Kepala BPP Sekayam, Ngateman, menyebut wilayah perbatasan sangat potensial untuk pengembangan tanaman jagung. Hal itu dibuktikan dengan hasil panen jagung yang dikembangkan polisi di Sekayam mencapai 12,5 ton per hektare atau melampaui target yang diprediksi.

“Luar biasa sekali, ini mungkin terobosan pertama kalinya kita menanam jagung bisa menghasilkan sekitar 12 ton per hektare. Kalau kita hitung-hitung secara komersil atau bisnis, sangat menjanjikan,” ungkap Ngateman.

Hitung-hitungan komersil itu bukan tanpa dasar. Kepala Kantor Bulog Cabang Sanggau, Kartika menyampaikan, tahun ini saja sebanyak 197 ton jagung petani berhasil diserap dengan nilai pembelian sekitar Rp1,26 miliar.

“Untuk harga jagung pipil dengan kadar air 14 persen sampai di gudang Bulog itu harganya Rp6.400. Untuk tahun ini ya, tahun 2026, itu sekitar 197 ton yang sudah masuk ke gudang Cabang Sanggau,” jelas Kartika.

Jagung, bukan hanya sekadar alternatif bahan makanan pokok, tapi juga sumber kehidupan bagi petani, pakan ternak yang krusial, dan bahkan energi masa depan. Jagung telah menjadi simbol ketahanan.

Ketika beras mahal, jagung hadir sebagai alternatif. Ketika petani butuh penghasilan, jagung jadi sumber harapan. Dari jagung, semua bisa berkata swasembada pangan bukan hanya mimpi, jika kita percaya pada kekuatan tanah dan tangan petani.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....