Taubat dan Istighfar Menjadi Solusi Hadapi Persoalan Kehidupan

  • 09 Sep 2026 09:53 WIB
  •  Sanggau

RRI.CO.ID, Sanggau - Taubat dan istighfar merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim ketika menghadapi berbagai persoalan, kesalahan, maupun ujian kehidupan. Dalam perspektif Islam, taubat menjadi jalan untuk kembali kepada Allah SWT, sementara istighfar merupakan bentuk permohonan ampun yang dapat menguatkan hati dan memperbaiki hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, keduanya tidak hanya berkaitan dengan dosa, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ketenangan, keteguhan, dan harapan dalam menjalani kehidupan.

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sanggau, Fery Yanto, menjelaskan bahwa taubat memiliki makna kembali kepada Allah SWT dengan meninggalkan perbuatan yang salah dan berusaha memperbaiki diri. Menurutnya, seorang Muslim hendaknya tidak menjadikan kesalahan masa lalu sebagai alasan untuk berputus asa, karena pintu ampunan Allah selalu terbuka bagi hamba yang benar-benar ingin kembali kepada-Nya.

“Taubat adalah momentum untuk kita kembali kepada Allah, meninggalkan kesalahan dan memperbaiki kehidupan dengan sungguh-sungguh,” ungkap Fery Yanto dalam Obrolan Mutiara Pagi RRI Sanggau, Rabu 9 September 2026.

Ia menjelaskan, taubat yang benar memiliki beberapa syarat, di antaranya menyadari dan menyesali perbuatan dosa, meninggalkan perbuatan tersebut, serta memiliki tekad untuk tidak mengulanginya. Apabila kesalahan berkaitan dengan hak orang lain, maka taubat juga harus disertai dengan upaya mengembalikan hak atau meminta maaf kepada pihak yang dirugikan.

Fery Yanto menjelaskan, istighfar perlu berjalan bersama doa, ikhtiar, dan tawakal dalam menghadapi persoalan kehidupan. Istighfar menjadi sarana memohon ampun dan mendekatkan diri kepada Allah, doa menjadi bentuk permohonan pertolongan, ikhtiar merupakan usaha nyata yang dilakukan manusia, sedangkan tawakal adalah menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT setelah berusaha secara maksimal.

“Doa, istighfar, dan ikhtiar harus berjalan bersama, kemudian hasilnya kita serahkan kepada Allah dengan tawakal,” ujarnya.

Fery menambahkan, ujian dan musibah dalam kehidupan juga perlu dipahami secara bijaksana dalam perspektif Islam. Tidak setiap kesulitan harus dipandang sebagai hukuman, karena ujian dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kesabaran, memperkuat keimanan, mengevaluasi diri, dan mendekatkan seorang hamba kepada Allah.

Fery Yanto berpesan agar umat Islam tidak mudah menyerah ketika menghadapi persoalan, kesalahan, maupun musibah dalam kehidupan. Ia mengajak umat untuk memperbanyak istighfar, berdoa, terus berikhtiar, dan bertawakal kepada Allah SWT dengan tetap menjaga kesabaran serta keyakinan bahwa setiap ujian memiliki hikmah.

“Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, perbanyak istighfar, panjatkan doa, lakukan ikhtiar, dan tetap bertawakal karena setiap ujian dapat menjadi jalan untuk semakin dekat kepada Allah,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....