Islam Hadir, Fanatisme Suku Berubah Jadi Persaudaraan
- 17 Agt 2026 20:30 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID,Sanggau - Sebelum Islam datang, kehidupan masyarakat Arab sangat dipengaruhi kuatnya ikatan kesukuan. Kepentingan suku menjadi prioritas, bahkan kepentingan dan keselamatan individu kerap dikorbankan demi mempertahankan kehormatan kelompok.
“Saat itu, seseorang harus membela sukunya, meskipun persoalan tersebut menyangkut kepentingan individu dan tidak selalu berkaitan dengan kepentingan bersama,” ujar Pengawas Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Sanggau, H. Qomar Laela, dalam Obrolan Mutiara Pagi Islam RRI Sanggau, Senin 17 Agustus 2026.
| Baca juga: Merawat Kepedulian dalam Keberagaman |
Menurutnya, ikatan kesukuan tidak hanya menentukan identitas seseorang, tetapi juga memengaruhi sikap dalam menghadapi persoalan sosial. Loyalitas terhadap suku dapat membuat seseorang lebih mengutamakan kepentingan kelompok dibandingkan mempertimbangkan keadilan bagi individu.
“Pada masa itu, kepentingan suku menjadi pegangan utama dalam kehidupan masyarakat, sehingga kepentingan pribadi sering kali harus dikesampingkan demi menjaga kehormatan dan kepentingan kelompok,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut juga berpotensi memicu konflik berkepanjangan antarsuku. Perselisihan yang awalnya melibatkan individu dapat berkembang menjadi pertikaian kelompok karena setiap anggota merasa memiliki tanggung jawab mempertahankan kehormatan sukunya.
“Islam mengubah fanatisme kesukuan menjadi semangat persaudaraan yang menjunjung keadilan dan menghormati sesama,” ujarnya.
Menurut Qomar perubahan tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak menghapus identitas suku, tetapi mengarahkan loyalitas agar tidak berkembang menjadi fanatisme yang merugikan orang lain. Nilai persaudaraan dan kemanusiaan menjadi landasan penting untuk membangun kehidupan masyarakat yang rukun, adil, dan saling menghargai.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....