Bimbingan Konseling Bukan Tempat Hukuman, tapi Ruang Sahabat
- 25 Mei 2026 07:48 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong - Ruang Bimbingan dan Konseling (BK) sering kali masih dianggap sebagai tempat bagi siswa yang bermasalah atau melanggar aturan di sekolah. Padahal, BK memiliki peran yang jauh lebih luas, yaitu sebagai sarana pendampingan untuk membantu perkembangan pribadi, sosial, akademik, dan karier siswa secara optimal serta membangun karakter positif siswa di sekolah.
Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Ma'arif, Rahayu Apridayanti menjelaskan bahwa pandangan seperti itu masih cukup sering ditemui di masyarakat maupun lingkungan pendidikan. Menurutnya, layanan Bimbingan dan Konseling tidak terbatas pada penanganan pelanggaran, melainkan juga berfungsi sebagai wadah pendampingan yang membantu siswa mengenali diri, menyelesaikan berbagai soal.
"Masih banyak orang menilai bahwa layanan bimbingan konseling itu identik dengan siswa yang melanggar aturan biasanya. Misalnya masala perilaku, mendapatkan hukuman dan anggapan bahwa kalo sudah di ruangan BK itu identik dengan anak - anak yang nakal," ungkap Ayu dalam Obrolan Sore Ceria RRI Pro2 Sanggau, Sabtu 23 Mei 2026.
Menurutnya Bimbingan dan Konseling pada dasarnya memiliki peran yang jauh lebih luas, tidak hanya sebagai tempat penanganan pelanggaran, tetapi juga sebagai ruang pendampingan yang ramah bagi siswa. BK dapat menjadi sahabat bagi siswa dan siswi dalam berbagi cerita, mencari solusi atas berbagai permasalahan, serta memberikan dukungan di sekolah.
"Padahal Fungsi BK itu jauh lebih luas lagi dari pada sekedar menangani masalah siswa - siswi yang bermasalah biasanya biasanya dalam prakteknya itu bimbingan konseling itu membantu siswa dan siswi dalam banyak hal," ungkapnya.
Disampaikan Ayu, tahap pertama adalah membantu siswa memahami minat dan potensi yang dimiliki dalam dirinya, kemudian tahap kedua berfokus pada kemampuan mengelola stres dan emosi. Selanjutnya, tahap ketiga diarahkan untuk membangun kepercayaan diri melalui pendekatan yang mendalam, sehingga siswa diharapkan dapat lebih mengenali dan memahami dirinya agar semakin lebih baik.
"Pertama memahami minat dan potensi di dalam dirinya, kedua mengelola stress dan juga emosi, kemudian yang ketiga itu membangun kepercayaan diri dengan pendekatan yang mendalam mungkin anak - anak akan lebih mengetahui," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....