BPBD Sanggau Himbau Masyarakat Waspada Cuaca Ekstrem

  • 21 Apr 2026 17:34 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong - Dalam beberapa tahun terakhir, pola cuaca di Kabupaten Sanggau mengalami perubahan yang cukup signifikan, peralihan antara musim kemarau dan hujan tidak lagi berlangsung secara stabil, melainkan cenderung tidak menentu. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran masyarakat, terutama yang bergantung pada sektor pertanian dan aktivitas berbasis alam.

Analis Mitigasi Bencana Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sanggau Apriati, menjelaskan bahwa perubahan pola cuaca ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik lokal maupun global. Ia menyebutkan bahwa fenomena global seperti El Nino dan La Nina turut berkontribusi besar terhadap ketidakpastian musim di wilayah tersebut.

“Perubahan pola cuaca dipengaruhi faktor lokal dan global, termasuk El Nino dan La Nina yang memicu ketidakpastian musim," ungkap Apriati dalam Obrolan Kentongan RRI Sanggau, Selasa 21 April 2026.

Menurut Apriati, dampak dari fenomena tersebut dapat memperpanjang musim kemarau atau meningkatkan intensitas curah hujan dalam waktu singkat. Akibatnya, wilayah Sanggau sering mengalami kondisi ekstrem, seperti kekeringan berkepanjangan yang tiba-tiba berubah menjadi hujan lebat dalam waktu singkat.

Dalam memprediksi peralihan musim, BPBD Sanggau mengacu pada data dan analisis dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dengan indikator yang digunakan meliputi suhu permukaan laut, pola angin, serta curah hujan historis. Informasi ini kemudian diolah untuk menentukan potensi risiko bencana yang mungkin terjadi.

“Fenomena ini bisa memperpanjang kemarau atau memicu hujan ekstrem mendadak, dan kami mengacu pada data BMKG seperti suhu laut, pola angin, dan curah hujan untuk memprediksi risikonya," jelasnya.

Disampaikannya, dari sisi kesiapsiagaan, BPBD Sanggau terus meningkatkan koordinasi lintas sektor, termasuk dengan pemerintah daerah dan masyarakat. Sistem peringatan dini juga telah diterapkan untuk memberikan informasi cepat terkait potensi cuaca ekstrem, sehingga masyarakat dapat mengambil langkah antisipatif lebih awal, dengan perencanaan pembuatan dokumen rencana penanggulangan bencana yang akan di terbitkan paling lambat tahun 2027.

Apriati menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mengurangi risiko bencana, edukasi terkait kesiapsiagaan terus dilakukan, termasuk melalui program desa tangguh bencana. Ia berharap pemerintah daerah dapat memperkuat infrastruktur dan kebijakan adaptasi perubahan iklim guna menghadapi kondisi cuaca yang semakin tidak menentu di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....