Mengapa Hoaks Lebih Cepat Dipercaya? Ini Penjelasan Pemeriksa

  • 11 Apr 2026 15:10 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong - Fenomena maraknya hoaks di media sosial tidak semata-mata dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, tetapi juga memiliki keterkaitan yang kuat dengan aspek psikologis manusia. Tak sedikit masyarakat yang justru lebih mudah terpikat dan mempercayai informasi yang bersifat sensasional dan menggugah emosi, dibandingkan fakta yang disajikan secara objektif dan apa adanya.

Pemeriksa Fakta Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) Pontianak, Sahri Ramadhan, mengungkapkan bahwa hoaks kerap dirancang secara sengaja untuk memancing emosi dan reaksi impulsif pembaca. Aspek inilah yang menjadi faktor utama mengapa informasi palsu begitu mudah dipercaya sekaligus cepat menyebar luas di tengah masyarakat.

“Hoaks biasanya dibuat untuk mempengaruhi emosi seseorang, tanpa literasi digital yang cukup, masyarakat akan mudah percaya terhadap informasi yang diterima,” ungkap Sahri dalam Obrolan Sore Ceria Pro 2 RRI Sanggau, Jumat 10 April 2026.

Penggunaan judul yang provokatif dan sensasional, menurutnya, menjadi salah satu ciri paling menonjol dari hoaks. Banyak orang cenderung tertarik pada informasi yang mengejutkan dan menggugah emosi, tanpa terlebih dahulu melakukan verifikasi terhadap kebenarannya.

“Ciri hoaks itu biasanya judulnya provokatif, sumbernya tidak jelas, dan sering meminta untuk langsung disebarkan. Ini yang harus diwaspadai,” ujarnya.

Selain dipicu oleh faktor emosional, rendahnya tingkat literasi digital turut mempercepat penyebaran hoaks di tengah masyarakat. Kelompok rentan seperti orang tua dan pengguna baru media sosial cenderung lebih mudah terpengaruh karena belum memiliki kemampuan memadai dalam memilah dan memverifikasi informasi.

“Tanpa pemahaman yang baik, orang bisa salah memahami informasi yang sebenarnya benar. Ini yang disebut misinformasi dan sama bahayanya,” jelasnya.

Sahri berharap masyarakat mulai membangun kebiasaan untuk berpikir kritis dan tidak tergesa-gesa dalam membagikan informasi yang diterima. Dengan sikap tersebut, ia meyakini penyebaran hoaks dapat ditekan, sehingga tercipta ruang digital yang lebih sehat, cerdas, dan bertanggung jawab.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....