Jalan Buntu Hentikan Perang
- 06 Apr 2026 15:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
INI kecemasan serius, Perang Teluk edisi ketiga yang diawali serangan AS-Israel terhadap Iran, bakal sulit dihentikan. Eskalasi serangan kedua pihak kian melebar dan brutal.
Sasaran penghancuran menyasar obyek yang tidak lazim dan terlarang. Bukan hanya fasilitas militer yang dihancurkan, melainkan juga rumah sakit, hotel, apartemen, tenda pengungsian, masjid, universitas, dan situs-situs sejarah.
Tak lagi serdadu kombatan yang terbunuh, tetapi juga ibu-ibu, para lansia, wanita remaja, dan anak-anak. Inilah perang paling sadis dan brutal sepanjang sejarah manusia modern penghuni bumi. Dan aktor utamanya siapa lagi kalau bukan duet Trump-Netannyahu.
Dunia dihadapkan pada ‘jalan buntu’ penghentian perang. PBB pun lumpuh tanpa otoritas sanksi tegas, tak sebatas himbauan. Iran sendiri menebar maut dengan menyerang Negara-negara tetangga di Teluk.
Awalnya hanya pangkalan militer AS yang dibom, sekarang hotel, apartemen dan bandara di kota-kota utama Teluk juga dibom. Alasan Iran, banyak tentara AS-Israel pindah dari barak militer ke hotel dan apartemen. Sedangkan bandara dilumpuhkan tangki-avturnya agar pesawat tak bisa terbang.
Beberapa Negara Teluk seperti Oman, Bahrain, UEA, Arab Saudi ingin balas gempuran Iran melalui tangan Amerika. Mereka sadar kekuatan militernya tak sebanding dengan Iran. Hanya Qatar yang berbeda, ia menyerukan agar Iran segera hentikan serangan terhadap negara-negara Teluk.
Qatar menyerukan solusi diplomatik untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat dan Israel, yang telah memicu krisis energi global. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar kepada Al Jazeera menuduh Iran menyerang negara Teluk tanpa alasan. “Kami berada di luar konflik,” katanya.
Tetapi di balik itu Negara Teluk menginginkan kehadiran dan peran AS lanjutkan perang hingga Iran menyerah. Kita tahu Iran tak akan mudah menyerah, dan apalagi Trump sendiri kaget dengan daya balas Iran yang hebat. Sejak AS-Israel mulai membombardir Iran pada 28 Februari, lebih dari 1.400 orang di Iran tewas dan merusak infrastruktur militer dan sipil, termasuk rumah sakit, sekolah, bandara, dan pelabuhan laut.
Wait and See
Dua Negara besar Tiongkok dan Rusia pun sudah cemaskan eskalasi perang ini. Tiongkok inginkan solusi damai. Rusia meski menikmati laris manis minyaknya, juga anjurkan hentikan perang.
Namun siapa yang bisa jinakkan aktor utamanya, Trump dan Netanyahu? Sikap Israel tentu “apa kata boss (AS) saja”. Israel masih punya nafsu besar kuasai Gaza dan batalkan Negara Palestina. Melawan Iran sekarang hanyalah sasaran antara.
Sejauh ini Indonesia dan Negara-negara pengimpor minyak di Asia Tenggara belum meneriakkan resolusi atau sikap tegas. Padahal Filipina, Thailand, Vietnam, Kamboja, Myanmar sudah tersentak gejolak harga minyak.
Hanya Brunai Darussalam yang tetap tenang memanfaatkan sumber migas buminya. Indonesia masih ‘wait and see’ meski terlanda cemas. Bagaimana tak khawatir, lifting minyak mentah domestik kita hanya 600 ribuan barel perhari.
Sementara konsumsi nasional 1.600 ribu barel, terpaksa ditambal impor satu juta barel. Itupun cadangan nasional hanya cukup 20 hari. Apa jadinya jika harga minyak kini sudah di atas USD110 sementara patokan APBN USD70 per barel. Bagaimana jika Selat Hormuz benar-benar digembok Iran. Terpaksa kita belanja minyak dari ‘black market’ yang mahal.
Makzulkan Trump
Kemungkinan yang bisa diharapkan adalah warga AS memakzulkan Donald Trump atau menumbangkannya. George Conway, mantan pengacara Partai Republik yang kini menjadi salah satu pengkritik paling vokal Donald Trump, menilai cengkeraman Trump terhadap partainya mulai melemah di tengah meningkatnya kekhawatiran internal Partai Republik.
Dalam wawancara dengan jurnalis Tara Palmeri pada akhir Maret lalu, Conway menyebut pemerintahan Trump sebagai yang paling korup dalam sejarah AS. Mulai muncul tanda-tanda retakan di internal Partai Republik, dan partai Trump itu sudah mulai muak.
Jajak pendapat Newsweek menunjukkan dukungan Trump mulai melemah dan pernah bilang kekalahan di DPR dapat berujung pada upaya pemakzulan dirinya. Trump sendiri telah dua kali dimakzulkan pada masa jabatan pertamanya tapi dibebaskan oleh Senat.
Anggota DPR dari California, Robert Garcia, menyatakan pemakzulan hampir pasti gagal di Senat, mengingat butuh dukungan 67 suara untuk memberhentikan presiden. Namun anggota DPR seperti Al Green dan Shri Thanedar tetap mendorong pengajuan pasal pemakzulan, dengan alasan tanggung jawab konstitusional Kongres. Juru bicara Gedung Putih, Davis Ingle, menyatakan pemilu paruh waktu akan menjadi ujian bagi kekuatan politik Trump di internal Partai Republik.
Ketua DPR AS Nancy Pelosi tampak seperti berperang melawan Trump. Pelosi yang merupakan 'motor' pemakzulan Trump pernah merobek-robek teks pidato Trump, saat pidato kenegaraan di US Capitol, Washington.
Sebelum berpidato Trump menolak bersalaman dengan Pelosi yang jelas-jelas telah mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Terlepas dari sentimen negatif, popularitas Trump tidak banyak berubah.
Terlalu Tua, Pikun
Kini faktor usia lanjut para pemimpin politik di AS menjadi sorotan luas, terlalu tua untuk mewakili mayoritas warga Amerika, mengingat rata-rata usia di Senat mencapai 64 tahun dan DPR 58 tahun. Trump presiden tertua saat kembali menjabat Januari 2025 di usia 78 tahun. Sedangkan Biden yang mengakhiri masa jabatannya di usia 82 tahun, dinilai telah kehilangan ketajaman mentalnya, alias pikun.
Trump memacu kebijakannya dengan kecepatan tinggi, tetapi kerap diwarnai nada marah di ruang publik. Misalnya ia menyebut anggota parlemen Demokrat yang menentangnya sebagai “pengkhianat yang bisa menghadapi eksekusi”. Tentu kubu Republik masih tetap solid membela, dengan 81 persen di antaranya bersikeras memandang sang presiden masih memiliki ketajaman mental yang utuh.
Di luar istana Washington jutaan warga AS turun ke jalan dalam aksi 'No Kings' yang digelar serentak di berbagai kota besar hingga wilayah pedesaan. Dari New York, Los Angeles, Chicago, hingga komunitas kecil di Alaska. Demonstran menyuarakan kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintahan Trump. Aktor Robert De Niro mendukung demo, menyebut Trump sebagai ancaman terhadap kebebasan dan keamanan.
Di tengah panasnya Teluk, dunia hanya bisa menunggu siapa dan jalan mana yang bisa hentikan perang ini. Siapa bisa menekan dan hentikan ambisi Trump, tokoh di luar AS atau kekuatan kritik warganya sendiri.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....