Fenomena Quiet Quitting dalam Dunia Kerja

  • 04 Apr 2026 23:53 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe -Dalam beberapa tahun terakhir, istilah quiet quitting semakin sering muncul dalam diskusi tentang dunia kerja. Fenomena ini merujuk pada kondisi ketika karyawan tetap menjalankan tugasnya sesuai deskripsi pekerjaan, tetapi tidak lagi memberikan usaha lebih di luar kewajiban tersebut. Mereka tidak benar benar berhenti bekerja, namun secara emosional mulai menarik diri dari pekerjaan.

Quiet quitting sering kali dipahami sebagai bentuk respon terhadap tekanan kerja yang tinggi. Banyak karyawan merasa tuntutan pekerjaan tidak sebanding dengan apresiasi yang diterima, baik dalam bentuk kompensasi maupun pengakuan. Akibatnya, mereka memilih untuk bekerja secukupnya sebagai cara menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.

Fenomena ini juga berkaitan dengan perubahan cara pandang generasi muda terhadap pekerjaan. Jika sebelumnya bekerja keras dan lembur dianggap sebagai bentuk loyalitas, kini semakin banyak individu yang memprioritaskan kesehatan mental dan kualitas hidup. Bekerja tidak lagi menjadi satu satunya pusat identitas, melainkan hanya salah satu bagian dari kehidupan.

Berdasarkan berbagai kajian mengenai perilaku kerja dan kesejahteraan karyawan yang dilansir dari berbagai sumber, quiet quitting dapat muncul sebagai bentuk kelelahan emosional atau burnout. Ketika individu merasa tidak memiliki kontrol atau tidak mendapatkan makna dari pekerjaannya, motivasi untuk berkontribusi lebih pun menurun secara signifikan.

Di sisi lain, fenomena ini juga memunculkan perdebatan di kalangan profesional. Sebagian pihak melihat quiet quitting sebagai sikap tidak profesional karena dianggap menurunkan produktivitas. Namun ada juga yang menilai bahwa hal ini merupakan bentuk batasan yang sehat untuk mencegah eksploitasi kerja yang berlebihan.

Lingkungan kerja yang tidak suportif juga berperan dalam memperkuat fenomena ini. Kurangnya komunikasi, minimnya kesempatan berkembang, serta budaya kerja yang terlalu menuntut dapat membuat karyawan kehilangan keterikatan dengan pekerjaannya. Dalam kondisi tersebut, bekerja secukupnya menjadi pilihan yang dianggap paling realistis.

Quiet quitting menunjukkan bahwa hubungan antara karyawan dan pekerjaan sedang mengalami perubahan. Karyawan tidak lagi sekadar mencari stabilitas finansial, tetapi juga mencari makna, keseimbangan, dan penghargaan dalam pekerjaan mereka. Perusahaan yang mampu memahami dinamika ini memiliki peluang lebih besar untuk membangun lingkungan kerja yang lebih sehat dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....