Banyak Komentar, Minim Pemahaman, Fenomena Dunning Kruger di Media Sosial
- 28 Mar 2026 14:48 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Media sosial telah menjadi ruang terbuka bagi siapa saja untuk menyampaikan pendapat. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkomentar, berdebat, bahkan mengkritik berbagai isu yang sedang ramai dibicarakan. Namun di balik kebebasan tersebut, muncul fenomena yang cukup sering ditemui yaitu banyaknya opini yang disampaikan tanpa dasar pemahaman yang memadai.
Fenomena ini terlihat dari maraknya komentar yang terkesan percaya diri, tetapi tidak didukung oleh pengetahuan yang cukup. Dalam banyak kasus, seseorang dengan pemahaman terbatas justru tampil paling vokal dalam menyampaikan pendapat. Hal ini sering kali memicu perdebatan yang tidak produktif, bahkan memperkeruh diskusi yang seharusnya bisa menghasilkan sudut pandang yang lebih konstruktif.
| Baca juga: Seberapa Jauh Kita Bisa Benar? |
Dalam kajian psikologi, fenomena ini dikenal sebagai Dunning Kruger Effect. Konsep ini menjelaskan bahwa individu dengan tingkat kompetensi rendah cenderung melebih lebihkan kemampuan atau pemahaman mereka. Sebaliknya, orang yang memiliki pengetahuan lebih dalam justru cenderung lebih berhati hati dalam menyampaikan pendapat karena menyadari kompleksitas suatu isu.
Media sosial memperkuat efek ini karena memberikan ruang ekspresi yang instan dan minim filter. Siapa pun dapat langsung berkomentar tanpa harus melalui proses verifikasi atau refleksi yang panjang. Selain itu, sistem algoritma yang mendorong interaksi tinggi sering kali justru memperbesar visibilitas komentar yang provokatif atau kontroversial, terlepas dari kualitas isinya.
Berdasarkan berbagai kajian mengenai perilaku komunikasi digital yang dilansir dari berbagai sumber, kemudahan akses informasi tidak selalu diiringi dengan kemampuan literasi yang baik. Banyak pengguna mengonsumsi informasi secara cepat tanpa melakukan verifikasi, lalu langsung membentuk opini dan menyebarkannya kembali dalam bentuk komentar atau unggahan.
Fenomena ini juga berkaitan dengan kebutuhan sosial untuk terlihat aktif dan relevan di ruang digital. Dalam konteks tertentu, berkomentar menjadi cara untuk menunjukkan eksistensi, meskipun isi komentar tersebut tidak selalu memiliki nilai substansi. Hal ini membuat ruang diskusi di media sosial sering dipenuhi oleh opini yang lebih menonjolkan emosi dibandingkan argumen yang rasional.
Dampak dari fenomena ini cukup signifikan terhadap kualitas diskusi publik. Informasi yang tidak akurat dapat menyebar lebih cepat, sementara diskusi yang seharusnya konstruktif berubah menjadi perdebatan yang tidak produktif. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi cara masyarakat memahami isu isu penting di ruang digital.
Meningkatkan literasi digital dan kesadaran akan keterbatasan diri menjadi kunci untuk menghadapi fenomena ini. Kemampuan untuk menahan diri sebelum berkomentar, memeriksa informasi, serta memahami konteks suatu isu dapat membantu menciptakan ruang diskusi yang lebih sehat dan bermakna di media sosial.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....