Rendang Berlalu, Memori Simbol Kegembiraan di Hari Raya
- 24 Mar 2026 16:50 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID, Sungailiat - Rendang dan ketupat hidangan khas di Hari Raya Idulfitri berlalu seiring berlalunya masa perayaan Idulfitri. Kalangan ibu rumah tangga kala menyambut Idulfitri menyiapkan menu makanan rendang dan ketupat adalah keniscayaan.
Kilas balik pada H -1 atau H -2 Lebaran, daging sapi menjadi komoditas yang diburu di pasar-pasar tradisional. Wajar jika kemudian harga daging sapi bisa melonjak, ironisnya seberapa pun kenaikan harga tetaplah diupayakan dibelinya. Itu dilakukan di antaranya untuk menyiapkan rendang sebagi menu primadona di hari raya.
Rendang dan Ketupat, Dua hidangan istimewa Idulfitri.
Kedua hidangan ini telah menjadi simbol budaya dan tradisi masyarakat Indonesia. Ketupat, yang terbuat dari beras yang dimasak dalam anyaman daun kelapa, melambangkan kesucian dan kebersamaan. Sementara itu, rendang, dengan proses memasaknya yang panjang, melambangkan ketahanan dan kesabaran.
Menyajikan rendang dan ketupat kepada tamu yang berkunjung saat Idulfitri dianggap sebagai tanda hormat dan kebersamaan. Oleh karena itu, kedua hidangan ini dalam mindsite masyarakat pada umumnya, menjadi sangat penting tersaji di meja makan dalam perayaan Idulfitri sehingga tidak bisa dipisahkan dari tradisi dan budaya masyarakat Indonesia.
Rendang dan Ketupat, dua hidangan istimewa Idulfitri. Keduanya kini berlalu. Keduanya sudah terserap tubuh dan mengisi energi, seiring energi kebahagiaan di Hari Raya Idulfitri
Dalam memori kolektif masyarakat, rendang dan ketupat telah menjadi simbol kebahagiaan dan kegembiraan saat hari raya. Aroma rendang yang khas dan rasa ketupat telah menjadi bagian dari pengalaman hari raya yang tak terlupakan.
"Ibuku beli 2,5 kg daging sapi untuk masak rendang. Maklum keluarga banyak," kata Hermanto Warga Desa Zed Bangka via WhatsApp, berbagi memori saat pra Lebaran.
Bagi Hermanto atau keluarga yang lainnya, rendang dan ketupat, semua itu sudah dilalui sampai tiga hari lebaran. Baginya rendang ketupat telah berlalu, sebagai gantinya beralih ke menu lain, menu yang lebih tradisional.

Para pemuda Desa Zed Bangka berkumpul makan bersama dengan menu tradisional tanpa rendang pasca Lebaran, Selasa, 24 Maret 2026 (Foto: Hermanto)
"Ya karena beberapa hari tadi, tiga hari tadi sudah makan rendang. Jadi alih menu biar tidak jenuh," kata Hermanto.
"Rendang habis, tinggal cerita tergantikan rusip (ikan yang dipermentasi, menu khas Bangka)," kata Novi, sosok ibu rumah tangga dan pekerja ASN.
Rendang Ketupat berlalu. Setelah perayaan Lebaran yang penuh dengan hidangan, rendang dan ketupat, pasca itu Hermanto dan Novi serta lainnya mulai berpikir untuk beralih pada menu atau hidangan lainnya. Mereka menyadari rendang dan ketupat, yang kaya akan lemak dan karbohidrat, dapat menjadi beban bagi tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan.
Pola makan kandungan gizi seimbang mulai dilakukan. Sayuran dan buah-buahan menjadi pilihan suplemen untuk menjaga keseimbangan gizi dan menjalani hidup yang lebih sehat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....