EQ - IQ, Ungkap Fakta di Balik Peristiwa

  • 02 Feb 2026 23:25 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Sungaiiat - Setiap jurnalis sangat memungkinkan menulis atau mengembangkan berita dengan menggunakan kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual. Tulisan yang dibuat bisa berbasis peristiwa atau nonperistiwa (evergreen).

Kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) terkait kemampuan mengelola emosi dan hubungan dengan orang lain. Kecerdasan intelektual atau Intelligence Quotient (IQ) lebih kepada kemampuan logis dan analitis.

EQ membantu jurnalis untuk berinteraksi dengan melancarkan komunikasi interpersonal dan ini 'wajib' untuk menghimpun data. IQ membantu untuk memecahkan masalah dan menganalisanya. Jurnalis perlu menggunakan IQ untuk membuat analisis dan EQ untuk memahami dampak berita terhadap pembaca. Keseimbangan antara fakta dan empati penting buat menulis berita yang berkualitas. 

Kecenderungan menulis dari peristiwa yang terindra adalah wajar dan itu sudah menjawab 'What', Apa peristiwanya? Pada saat itulah kemudian jurnalis untuk menggunakan EQ dan IQ sehingga menghasilkan pilihan anggle berita ke 'follow up' atau 'round up', bahkan ke format indept reporting dan format berita lainnya.

"Itu berita ditulis dari yang terindra. Yang lain sudah ditulis temen-temen. Apa ada lagi ya, pak," kata Muti, penulis pemula usai liputan peristiwa ruwah kubur di Bangka Tengah.

Hal yang diungkapkan Muti itu lumrah saja bagi penulis pemula. Tampaknya kemampuan untuk menulis dari yang terindra dalam suatu peristiwa sudah bisa ia olah datanya dan menjadi berita berbasis peristiwa.

Menghasilkan tulisan berita dari substansi yang terindra dalam suatu peristiwa memang itu suatu kemampuan, namun tidak harus puas sampai di permukaannya saja. Karena itu EQ dan IQ perlu digunakan sehingga bisa menemukan fakta di balik peristiwanya. 

Kemampuan menggunakan daya analitis, sebab-akibat, uji premis dari suatu peristiwa akan mengungkap substansi-substansi lain. Temuan terhadap substansi itulah, melalui EQ dan IQ akan kembali menggerakan dan memotivasi diri jurnalis untuk membuka peta liputan baru. 

Peta liputan, akan kembali menjadi rencana strategis; memetakan tujuan menulis, memilih narasumber, mencari data, menghimpun dan mengolah data serta memformat tulisan yang akan dibuat. Bahkan dalam kelengkapan pilar berita tulisan/ online akan terencana pengambilan gambar untuk disesuaikan dengan anggle berita.

"Ya, pak saya cari lagi gambarnya yang pas dengan judul," kata Irwan, penulis berita portal rri.co.id ketika terkoreksi ketidaksesuaian foto dengan anggle beritanya.

Ketidakfokusan terhadap suatu substansi berkecenderungan akan terjadi tidak koherensian suatu muatan konten informasi atau berita. Seperti tidak koherensinya antara pilar judul berita dan narasi/caption foto. Begitupun EQ dan IQ perlu adanya keseimbangan, dalam upaya mengungkap fakta di balik peristiwa.

Pada dasarnya setiap manusia memiliki EQ dan IQ meskipun tingkatannya akan berbeda-beda. Dalam hal membantu menggali fakta di balik peristiwa untuk menghasilkan suatu berita, EQ dan IQ keduanya perlu dilatih sehingga terbentuk habituasi. 

IQ bisa saja dilatih dengan seringnya berliterasi untuk mendapatkan pengetahuan dan melatih memecahkan suatu masalah dengan logika. EQ bisa dilatih dengan mengembangkan rasa empati, menjadi pendengar yang baik, mengenal dan mengelola emosi, membangun keterbukaan interaksi sosial. Yakinkah diri; bahwa kita tidak bisa tidak berkomunikasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....