Thailand Bersiap Rebut Selat Malaka
- 22 Jan 2026 10:23 WIB
- Pusat Pemberitaan
BERABAD lamanya Selat Malaka, pelabuhan Singapura, dan pelabuhan Batam menguasai jalur logistik laut global yang tak tergantikan. Tak kurang 70 ribu kapal setahun melintasi selat Malaka, menimbulkan kepadatan dan bahkan antre panjang kemacetan yang membebani biaya perjalanan kapal. Sejauh ini hampir tak ada kegagalan fungsi selat penting ini, karena bila terjadi kebuntuan total, kapal-kapal masih bisa melintasi Selat Sunda atau Selat Lombok meski lebih jauh.
Kesibukan Selat Malaka hanya bisa ditandingi Terusan Suez dan Terusan Panama. Singapura begitu nyaman dengan posisi strategis sebagai hub logistik laut ini. Kita menyiapkan Batam dengan fasilitas mentereng sebagai tandem sekaligus pesaing pelabuhan Singapura.
Namun era keemasan ini bisa meredup, karena sedang dibangun ‘terusan darat’ (Land Bridge) di pinggang paling tipis di daratan Thailand. Sungguh ini berkah alam bagi negeri Gajah Putih ini, karena pinggang daratan itu jika berhasil ditembus, akan langsung memotong jarak signifikan antara Samudera Hindia dan Pasifik.
Jalur tembus itu tidak melalui permukaan laut seperti Panama, melainkan fasilitas darat berupa jalur kembar kereta api dan jalan tol sepanjang 90 km. Mega proyek ini menghubungkan Teluk Thailand dan Laut Andaman, ditopang dua pelabuhan laut dalam di Chumphon dan Ranong.
Ini akan mengurangi kebergantungan pada Selat Malaka yang padat, mempercepat waktu pengiriman, dan melambungkan posisi Thailand sebagai pusat logistik global. Perjalanan kapal dapat dihemat 6-9 hari dibanding melewati Selat Malaka. Barang dari Asia Timur akan dibongkar di Chumphon, diangkut darat ke Ranong, lalu dikirim ke Asia Selatan/Barat/Eropa, dan sebaliknya.

Peta jalur Land Bridge (Gambar: Nikkei)
Akan Selesai 2030
Gagasan besar ini sebenarnya sudah dirancang sejak lama. Kondisi ekonomi dan politik Thailand yang silih berganti Perdana Menteri, melambatkan wujudnya. Kini rencana itu telah mendapat persetujuan kabinet untuk memulai fase awal, dengan target selesai 2030 dan beroperasi penuh 2039. Model bisnisnya kemitraan Publik-Swasta (KPS) dengan konsesi 50 tahun, dan terbuka untuk investasi asing.
PM Thailand Srettha Thavisin, seorang mantan menteri keuangan, menyampaikan visi besar tersebut kepada para investor Tiongkok ketika ia menghadiri Forum Belt and Road pada pertengahan Oktober lalu. Megaproyek senilai kurang lebih Rp400 triliun ini juga ditawarkan kepada investor Timur Tengah. Lalu dibawa ke San Francisco pada 12 November lalu ketika menghadiri KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik dan berkesempatan berbicara dengan para pebisnis Amerika.
Ernst Wolfgang Reichel, Duta Besar Jerman untuk Thailand, akan melobi perusahaan Jerman untuk berinvestasi seperti Siemens, yang ikut membangun sistem kereta api Bangkok. Setidaknya 227 perusahaan Jerman telah berinvestasi sekitar 4,2 miliar di Thailand, investasi asing Jerman terbesar di negara Asia Tenggara selain Singapura dan Malaysia. Menurut perkiraan Deutsche Bundesbank, Mercedes-Benz dan BMW, raksasa mobil Jerman, telah berinvestasi dalam proyek manufaktur dalam skema Koridor Ekonomi Timur.
Tetapi para analis menduga pendanaan utama akan datang dari Cina, investor terbesar dalam proyek infrastruktur di Asia Tenggara. Selain butuh investasi besar, proyek ini harus dijamin stabilitas politik Thailand yang berkelanjutan untuk menarik investor jangka panjang.
Terusan darat ini merupakan versi modifikasi dari proyek Terusan Kra yang sudah lama diusulkan namun sulit direalisasikan. Land Bridge dianggap lebih mudah sekaligus menghindari masalah konstitusional dan rusaknya alam sekitar. Dampak geopolitiknya akan menempatkan Thailand di pusat persaingan strategis antara AS dan Tiongkok.
Manfaat ekonominya akan meningkatkan PDB, menciptakan lapangan kerja, dan mendukung kawasan ekonomi khusus (Southern Economic Corridor). Namun ia masih harus bersaing dengan rute Selat Malaka yang sudah mapan dan proyek infrastruktur lain di Asia Tenggara.
Vietnam Bergabung
Impian besar ini juga memikat Negara di kawasan Asia Tenggara. Vietnam dan Thailand sebagai dua kekuatan ekonomi utama, memiliki visi yang mirip untuk masa depan kawasan. Fokus utama mereka adalah konektivitas regional, karenanya Vietnam dan Thailand bekerja sama dalam proyek transportasi lintas batas mencakup jalan raya, kereta api, dan pelabuhan.
Di balik kerja sama itu sebenarnya terjadi persaingan, berlomba menjadi pusat logistik kawasan. Proyek utama yang melibatkan kedua negara adalah "East-West Economic Corridor”. Koridor ini menghubungkan Myanmar, Thailand, Laos, dan Vietnam, menjadi jalur penting perdagangan darat ASEAN dan berakhir di pelabuhan utama Vietnam, Da Nang.
Itu sebabnya Vietnam memperkuat infrastruktur di sekitar Da Nang, agar kota ini menjadi gerbang utama ekspor-impor. Thailand juga memperkuat jaringan jalan dan rel kereta. Mereka ingin menjadi simpul logistik menuju kawasan Indochina. Sebab jika proyek Land Bridge berhasil, bisa menggeser jalur perdagangan dari Vietnam.
Sumber OTT Shipping.com mengungkapkan jembatan darat Thailand akan mampu menyelesaikan masalah Selat Malaka. Rute ini lebih murah, lebih cepat dan lebih aman. Desain pelabuhan barat akan mengatasi kargo 19,4 juta TEUs, sedangkan pelabuhan timur 13,8 juta TEUs, secara keseluruhan menyumbang 23 % total volume kargo pelabuhan Malaka.
Proyek ini akan menciptakan 280.000 lapangan kerja dan meningkatkan tingkat pertumbuhan ekonomi tahunan Thailand menjadi 5,5 persen jika dilaksanakan sepenuhnya. Direncanakan proyek selesai tahun 2030, dan akan beroperasi penuh 2039. Investor Amerika yang mungkin tertarik antara lain SSA Marine Inc., Long Beach Port, Oracle, dan Webtec.
Apa respon kita mengantisipasi perubahan strategis jalur logistik di kawasan ini? Malaysia, Singapura, dan Indonesia akan langsung terdampak dengan meredupnya peran Selat Malaka. Akankah ketiga Negara ini bersinergi mencari alternatif lain, atau bergabung dengan Thailand dan Vietnam menikmati kue ekonomi bersama. Kita berada di era kolaborasi ketimbang kompetisi.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....