BMKG: Puncak Musim Kemarau Bengkulu Juli–Agustus, Hujan Masih Terjadi

  • 20 Jul 2026 20:16 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun meteorologi Fatmawati Soekarno Bengkulu menyampaikan Provinsi Bengkulu saat ini telah memasuki musim kemarau yang dipengaruhi angin monsun Australia atau angin dari arah tenggara. Masyarakat diminta tidak salah memahami musim kemarau bukan berarti hujan tidak akan turun sama sekali.

Prakirawan BMKG Bengkulu, Fajar Handoyo, mengatakan hujan masih berpotensi terjadi selama musim kemarau, namun intensitasnya lebih rendah dibandingkan kondisi normal. Berdasarkan prakiraan BMKG, hujan ringan hingga sedang masih dapat terjadi di sejumlah wilayah Bengkulu secara tidak merata.

"Musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Hujan masih bisa terjadi, hanya intensitasnya lebih sedikit dibandingkan biasanya," kata Fajar, Senin 20 Juli 2026.

Ia menjelaskan, berdasarkan pantauan BMKG, hujan ringan hingga sedang telah terjadi di Kabupaten Mukomuko, Rejang Lebong, dan Bengkulu Utara. Sementara itu, Kota Bengkulu masih berpeluang diguyur hujan ringan karena dipengaruhi karakteristik wilayah pesisir yang memiliki pola cuaca lebih dinamis.

Menurut Fajar, puncak musim kemarau di Bengkulu diperkirakan berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026. Ia menegaskan, hujan yang turun selama satu atau dua hari tidak otomatis mengakhiri musim kemarau karena penetapan musim didasarkan pada kriteria klimatologis, termasuk akumulasi curah hujan dalam periode tertentu.

"Kalau satu atau dua hari terjadi hujan, bukan berarti musim kemarau selesai. Ada kriteria klimatologis yang menjadi dasar penentuan musim kemarau," ujarnya.

Fajar menambahkan, dominasi angin monsun Australia menyebabkan pasokan uap air ke wilayah Bengkulu berkurang sehingga kelembapan udara menjadi lebih rendah. Kondisi tersebut dapat berdampak pada berbagai sektor, mulai dari pertanian hingga pengelolaan sumber daya air.

Karena itu, BMKG mengimbau pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini. Upaya mitigasi, terutama dalam pengelolaan ketersediaan air dan penyesuaian aktivitas di sektor pertanian, dinilai penting untuk menghadapi puncak musim kemarau.

"Sektor seperti pertanian ya bisa memitigasi bagaimana kalau air berkurang, untuk sektor-sektor yang lain, kalau yang sumber daya air bagaimana untuk memasok mengatur air yang diperlukan gitu kan. Dan banyak sektor jadi kita harus memitigasi bahwa jumlah air bakal berkurang dari normalnya," tuturnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....