Anak Cemas Masuk Sekolah : Wajar atau Perlu di Waspadai

  • 18 Jul 2026 14:48 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Memasuki tahun ajaran baru menjadi momen yang penuh harapan sekaligus tantangan bagi anak dan orang tua. Sebagian anak tampak antusias mengenakan seragam baru, bertemu guru, dan berkenalan dengan teman-teman baru. Namun, tidak sedikit pula yang menunjukkan tanda-tanda kecemasan, seperti sulit tidur menjelang hari pertama sekolah, menangis saat diantar, mengeluh sakit perut, hingga berulang kali mengatakan tidak ingin berangkat ke sekolah.

Kondisi tersebut kerap membuat orang tua bingung. Ada yang menganggap anak hanya bersikap manja, sementara sebagian lainnya langsung khawatir anak mengalami gangguan psikologis. Padahal, rasa cemas saat memasuki lingkungan sekolah merupakan bagian yang cukup normal dalam proses perkembangan anak, meski dalam kondisi tertentu tetap perlu mendapatkan perhatian.

Psikolog sekaligus Founder Psikologianak.id dan Dosen Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Robik Anwar Dani, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa kecemasan saat memasuki lingkungan sekolah merupakan respons yang manusiawi karena anak sedang menghadapi proses adaptasi.

"Ketika seorang anak memasuki sekolah yang bisa kita sebut lingkungan baru, otomatis mereka mengalami proses adaptasi. Seorang anak ketika masuk sekolah mengalami masa transisi dan memerlukan proses adaptasi. Anak akan berpikir, di sekolah akan ngapain ya, akan bertemu dengan siapa ya. Hal ini merupakan hal yang manusiawi," ujar Robik saat menjadi narasumber dalam acara Teman Cerita di PRO 1 RRI Madiun, Selasa 14 Juli 2026.

Dalam psikologi perkembangan, setiap perubahan besar menuntut adanya proses penyesuaian. Masuk sekolah berarti anak harus menghadapi berbagai hal baru secara bersamaan, mulai dari lingkungan, guru, aturan, rutinitas, hingga teman-teman yang belum dikenal. Situasi tersebut membuat otak anak berusaha memprediksi apakah lingkungan baru tersebut aman atau justru mengancam.

Karena belum memiliki pengalaman yang cukup, respons cemas muncul sebagai mekanisme alami untuk meningkatkan kewaspadaan anak terhadap situasi baru. Dengan kata lain, kecemasan dalam kadar yang wajar bukanlah tanda adanya gangguan, melainkan bagian dari proses adaptasi yang membantu anak mempersiapkan diri menghadapi perubahan.

Meski demikian, orang tua tetap perlu memperhatikan apabila kecemasan berlangsung terlalu lama dan mulai mengganggu aktivitas anak.

"Hal yang manusiawi manakala anak ketika masuk sekolah masih 'nglendot' ke orang tuanya. Hanya saja, perlu diwaspadai ketika anak terus minta ditunggui dalam waktu yang cukup lama, setiap hari begitu terus, sampai seorang anak mengatakan tidak mau sekolah. Waktu sekitar dua sampai tiga bulan masih tergolong manusiawi," tambah Robik.

Di akhir dialog, Robik menegaskan bahwa kesiapan anak memasuki sekolah tidak semata-mata diukur dari kemampuan akademik seperti membaca, menulis, dan berhitung. Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah kehadiran orang tua sebagai sumber rasa aman bagi anak selama menjalani masa transisi.

"Ketika kita membersamai anak memasuki sekolah, bukan berarti anak harus sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung. Yang terpenting adalah orang tua benar-benar hadir ketika anak membutuhkan, menjadi tempat yang menenangkan saat anak menangis, bukan justru memberikan tekanan melalui tuntutan akademik yang dapat membuat anak semakin tertekan," pungkasnya.

Memahami bahwa kecemasan merupakan bagian dari proses adaptasi akan membantu orang tua memberikan respons yang lebih tepat. Dengan dukungan emosional yang konsisten, anak akan lebih mudah membangun rasa percaya diri dan beradaptasi dengan lingkungan sekolah barunya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....