Satu Dekade Kolaborasi, DIY dan Melbourne Symphony Orchestra Perluas Kemitraan
- 16 Jul 2026 14:18 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kerja sama antara Pemerintah Daerah (Pemda) DIY dan Melbourne Symphony Orchestra (MSO) memasuki babak baru setelah satu dekade menghadirkan berbagai program pengembangan seni, budaya, serta sumber daya manusia. Kolaborasi tersebut dinilai tidak hanya melahirkan generasi baru musisi dan pengelola seni, melainkan juga memperkuat jejaring internasional, menggerakkan ekonomi kreatif, dan meningkatkan daya tarik pariwisata DIY.
Memasuki dekade kedua, Pemda DIY dan MSO berkomitmen memperluas kemitraan agar memberikan manfaat yang lebih besar bagi kebudayaan, perekonomian, dan masyarakat di kedua wilayah. Komitmen tersebut mengemuka saat Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menerima kunjungan Chief Operating Officer (COO) Melbourne Symphony Orchestra Suzanne Dembo bersama Head of Operations MSO Callum Moncrieff di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta pada Rabu, 15 Juli 2026.
Dalam pertemuan tersebut, Sri Sultan didampingi oleh Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY Dian Lakshmi Pratiwi serta Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) DIY Ghofar Ismail.
Kepala DPMPTSP DIY Ghofar Ismail mengatakan bahwa tahun depan menjadi momen penting karena menandai satu dekade hubungan kerja sama antara Pemda DIY dan Pemerintah Negara Bagian Victoria, Australia. Menurutnya, berbagai program yang telah dijalankan selama ini berhasil membuka ruang kolaborasi di berbagai bidang strategis.
"Harapan Bapak Gubernur adalah hubungan yang sudah terjalin baik ini terus dipertahankan dan diperkuat melalui kegiatan-kegiatan nyata. Kerja sama ini bukan hanya soal pertukaran program, tetapi juga upaya bersama mengembangkan kreativitas dan memperluas akses masyarakat terhadap seni dan budaya," ujarnya.
Ia menuturkan bahwa Sri Sultan juga menceritakan perkembangan musik orkestra di DIY yang memiliki karakter tersendiri. Berbeda dengan banyak negara Barat yang menggelar konser di gedung pertunjukan dengan penonton duduk di kursi, pertunjukan orkestra di Yogyakarta dapat dinikmati secara lebih dekat melalui konsep ruang terbuka, bahkan dengan lesehan.
Menurut Ghofar, pendekatan tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Satu pertunjukan orkestra di DIY mampu menarik lebih dari 2.000 penonton, jauh lebih banyak dibandingkan dengan rata-rata konser orkestra di sejumlah negara Barat yang umumnya dihadiri ratusan orang saja.
"Hal ini menunjukkan bahwa musik orkestra di DIY telah menjadi bagian dari ruang budaya yang terbuka dan dapat dinikmati oleh masyarakat luas," katanya.
Ia menambahkan bahwa keterbukaan tersebut menjadi salah satu kekuatan kolaborasi DIY dan MSO dalam membangun ekosistem seni yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan. Dampaknya turut dirasakan oleh sektor ekonomi kreatif dan pariwisata melalui berbagai agenda seni bertaraf internasional.
Ke depan, Sri Sultan berharap kerja sama tidak hanya berkembang di bidang seni dan budaya, melainkan juga merambah sektor strategis lainnya seperti pariwisata, perdagangan, dan investasi. Salah satu harapan yang disampaikan adalah meningkatnya konektivitas penerbangan langsung antara Australia dan DIY untuk mendukung mobilitas wisatawan maupun pelaku usaha.
Sementara itu, COO Melbourne Symphony Orchestra Suzanne Dembo mengungkapkan kebanggaannya atas perjalanan kemitraan yang terus berkembang selama sepuluh tahun terakhir. Menurutnya, program ini telah memberikan dampak nyata, khususnya dalam pembinaan generasi muda di bidang musik.
"Kami sangat bahagia bisa menjadi bagian dari perjalanan ini. Setiap tahun kualitas peserta Youth Music Camp terus meningkat. Standar dan kemampuan mereka semakin baik, dan itu menunjukkan program ini benar-benar memberikan dampak positif," ujarnya.
Suzanne menambahkan bahwa Sri Sultan juga mengapresiasi kontribusi MSO dalam memperkuat ekosistem seni di DIY. Selain melalui Youth Music Camp, kerja sama diwujudkan lewat Art Management Workshop yang berhasil mencetak generasi baru pengelola seni pertunjukan yang profesional.
Ia menilai salah satu pencapaian penting dari kolaborasi tersebut adalah semakin luasnya jejaring seni internasional yang dimiliki Yogyakarta. Hubungan Yogyakarta Royal Orchestra (YRO) dengan berbagai institusi seni dunia menjadi bukti nyata perkembangan tersebut. MSO pun merasa memiliki ikatan khusus karena turut berkontribusi pada fase awal pembentukan YRO.
Bagi MSO, kemitraan ini bukanlah proyek jangka pendek. Setelah mengikuti Youth Music Camp, sejumlah peserta akan memperoleh kesempatan menjalani program magang di markas MSO di Melbourne selama sekitar satu bulan pada Oktober 2026. Sepulangnya ke DIY, mereka diharapkan dapat membagikan pengalaman sekaligus mengembangkan berbagai proyek seni bersama komunitas.
"Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Keberlangsungan kerja sama ini menunjukkan kuatnya persahabatan yang telah dibangun antara MSO dan Pemda DIY. Kami yakin kemitraan ini akan terus tumbuh dan memberikan manfaat yang semakin besar pada masa mendatang," katanya.
Pada 2027 mendatang, Sri Sultan juga dijadwalkan menghadiri peringatan satu dekade hubungan kerja sama Pemda DIY dan Victoria di Australia. Momentum tersebut diharapkan menjadi langkah baru untuk memperluas kolaborasi lintas sektor yang selama ini dibangun melalui jalur kebudayaan.
Memasuki dekade kedua, DIY dan MSO sepakat menjadikan kemitraan ini sebagai investasi jangka panjang dalam mencetak generasi kreatif, memperluas jejaring internasional, serta memperkuat posisi DIY sebagai salah satu simpul diplomasi budaya Indonesia di tingkat global. Kolaborasi tersebut menjadi bukti nyata bahwa kebudayaan mampu menghadirkan dampak riil bagi masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan mempererat hubungan antarbangsa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....