Humas SD Muhammadiyah 1 Solo Ungkap Tantangan Era Digital
- 15 Jul 2026 19:18 WIB
- Surakarta
RRI. CO. ID, Surakarta - Humas SD Muhammadiyah 1 Solo, Jawa Tengah Dwi Jatmiko, mengungkapkan sejumlah tantangan di dunia pendidikan saat ini yang dihadapkan pada tantangan berat di era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity).
Jatmiko mengungkapkan perubahan yang serbacepat, disrupsi digital, serta kompetisi antarlembaga yang semakin beragam menuntut sekolah maupun madrasah untuk tidak lagi bersikap pasif dalam menjaring calon peserta didik.
Hal tersebut menjadi benang merah dalam pemaparan materi bertajuk “Transformasi Brand Menuju Branding” yang menyoroti pentingnya respons strategis lembaga pendidikan dalam mengintegrasikan aspek style (gaya visual) dan substance (subtansi/kualitas),” ujar Jatmiko, usai menerima sertifikat dari Balai Diklat Keagamaan Semarang, Rabu 15 Juli 2026.
Ia menambahkan tantangan serupa juga ditemukan dalam Lembaga pendidikan yang dituntut melakukan kerja-kerja ekstra yang terstruktur untuk menyebarluaskan nilai-nilai unggulannya ke masyarakat luas.
“Pakar pemasaran menekankan pentingnya memahami paradigma dasar perbedaan antara Merek (Brand) dan Proses Branding. Merek didefinisikan sebagai kata benda yang meliputi nama, istilah, tanda, simbol, atau desain yang berfungsi sebagai penanda identitas pokok (value indicator) atau aset pasif yang menjawab pertanyaan 'Siapa Anda?',” bebernya.
Sementara itu, branding merupakan kata kerja aktif berupa proses penciptaan jejak tertentu di benak dan hati konsumen.
Branding menjadi mesin penggerak berupa kegiatan komunikasi untuk membangun, membesarkan, dan memberi reputasi agar masyarakat percaya dan memilih lembaga tersebut.
Dalam implementasinya, lembaga pendidikan dapat membedah kekuatan mereka melalui enam tingkatan makna brand berdasarkan Model Kotler. Mulai dari atribut yaitu sifat fungsional kasat mata, seperti fasilitas gedung dan program kelas.
Manfaat, terjemahan fungsional atau emosional yang dirasakan, seperti rasa aman dan ketahanan. Nilai, cerminan nilai pembeli atau wali murid, seperti aspek prestasi, agama, dan kedisiplinan. Budaya, sistem yang mendasari merek dan menjadi penuntut perilaku internal lembaga.
“Kepribadian, proyeksi karakter merek, misalnya modern, eksklusif, atau ramah. Dan pemakai profil spesifik dari target konsumen atau siswa yang dituju,” urainya.
Untuk mewujudkan proses branding yang sukses, terdapat enam unsur pembentuk visual dan verbal yang harus diselaraskan secara konsisten.
Unsur-unsur tersebut meliputi nama merek sebagai pembeda utama di masyarakat, logo sebagai simbol unik identitas visual, serta tampilan visual melalui desain seragam hingga brosur demi menambah pencitraan elegan.
Selain itu, lembaga juga harus memaksimalkan peran juru bicara (co-founder, tokoh agama, kepala sekolah, atau alumni sukses) untuk meningkatkan pamor, memperkuat aspek suara (audio branding seperti lagu tematik atau mars), serta merumuskan kata-kata berupa slogan atau tagline yang cerdas, ceria, positif, dan mudah diingat.
“Melalui transformasi brand yang terencana ini, madrasah dan sekolah diharapkan mampu bertahan dan tetap menjadi pilihan utama masyarakat di tengah ketatnya persaingan era digital,” pungkasnya. (Edwi)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....