Kemendukbangga Gelar GAMAS di SLB Negeri 2 Jakarta
- 13 Jul 2026 07:19 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji menegaskan seluruh anak Indonesia, termasuk penyandang disabilitas, memiliki hak yang sama. Terutama untuk mendapatkan kasih sayang, pendampingan keluarga, serta akses pendidikan yang layak.
Hal tersebut disampaikan saat pelaksanaan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS). Acara ini digelar di SLB Negeri 2 Jakarta, Jagakarsa, Senin, 13 Juli 2026.
Menurutnya, dipilihnya SLB Negeri 2 Jakarta sebagai lokasi pelaksanaan GAMAS bukan tanpa alasan. Pemerintah ingin menyampaikan pesan bahwa tidak boleh ada satu pun anak yang tertinggal dalam pembangunan.
“Hari ini kita ingin menyampaikan pesan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk dicintai, didampingi, dan didukung oleh keluarganya. Tidak ada perbedaan dalam kasih sayang orang tua, hak memperoleh pendidikan, maupun perhatian negara,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelaksanaan GAMAS di sekolah luar biasa merupakan wujud nyata kehadiran negara bagi seluruh anak Indonesia. Termasuk anak-anak penyandang disabilitas yang memiliki potensi, bakat, dan cita-cita untuk masa depan bangsa.
Menurutnya, pembangunan yang inklusif harus memastikan tidak ada anak yang merasa sendirian. Juga tidak ada keluarga yang berjalan sendiri dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Kemendukbangga/BKKBN juga mengajak para ayah untuk mengambil peran lebih aktif dalam pengasuhan. Salah satu implementasinya diwujudkan melalui Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah.
Ia mengatakan, mengantar anak ke sekolah memang hanya membutuhkan waktu beberapa menit. Namun momen tersebut dapat meninggalkan kesan mendalam bagi seorang anak.
“Anak mungkin akan lupa pelajaran pertama yang diterimanya. Tetapi mereka akan selalu mengingat siapa yang menggenggam tangannya saat memasuki gerbang sekolah,” katanya.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengungkapkan hasil PK 2025 yang menunjukkan sekitar 25,8 persen anak di Indonesia mengalami kondisi fatherless. Yakni tumbuh tanpa keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan kehidupan sehari-hari, meski sang ayah masih hidup.
Data tersebut menjadi pengingat bahwa tantangan pengasuhan saat ini tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi. Tetapi juga pentingnya kehadiran emosional ayah dalam kehidupan anak.
“Di tengah masih tingginya kondisi fatherless, GAMAS menjadi pengingat kehadiran ayah merupakan kebutuhan penting bagi tumbuh kembang anak. Kehadiran itu bukan hanya secara fisik, tetapi juga melalui perhatian, kasih sayang, dan keterlibatan dalam setiap proses kehidupan anak,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh ayah maupun wali untuk menjadikan hari pertama sekolah sebagai awal membangun kebiasaan baru. Yakni hadir dalam setiap momen penting kehidupan anak.
Sementara kepada para siswa, ia berpesan agar terus belajar, berani bermimpi, dan percaya pada kemampuan diri. Yakni sebagai generasi penerus yang akan memberi warna bagi Indonesia.
Sementara itu orang tua murid dari SLBN 2 Jakarta, Aisyah berharap pemerintah dapat membantu melancarkan akses anak anak berkebutuhan khusus setelah kelulusan sekolah. Karena, kata Aisyah, sulitnya mencari pekerjaan bagi anak-anak berkebutuhan khusus membuat para orang tua sedih.
“Saya sedih jika lapangan pekerjaan sulit diakses oleh kami ini. Saya berharap pemerintah dapat memberikan dukungan terus menerus," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....