Buka Luwur Makam Syech Maulana Ibrahim Maghribi, Tradisi yang Harus Diwariskan
- 10 Jul 2026 20:46 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Boyolali – Salah satu tradisi yang sudah dijadikan agenda tahunan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali melalui Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Boyolali adalah Buka Luwur Makam Syech Maulana Ibrahim Maghribi, yang diselenggarakan setiap hari Jumat minggu ketiga bulan Muharam atau Sura.
Agenda yang dilaksanakan di Kompleks Makam Pantaran, Desa Candisari, Kecamatan Gladagsari Jumat 10 Juli 2026 pagi tersebut, dihadiri oleh Bupati Boyolali Agus Irawan, jajaran Forkopimda Kabupaten Boyolali, serta Kepala OPD di lingkungan Pemkab Boyolali.
Ritual Buka Luwur diawali dengan kirab yang membawa luwur atau kain mori penutup makam, songsong, bunga, serta sesaji yang diiringi oleh Pasukan Keraton Kasunanan Surakarta.
Menyusul dibelakangnya, ada enam gunungan yang berisi hasil bumi. Nantinya, saat usai acara akan diperebutkan oleh masyarakat. Hal ini karena menurut kepercayaan, bagi siapapun yang berhasil membawa pulang hasil bumi itu akan mendapat berkah.
Memasuki area makam, pemimpin kirab menyerahkan luwur kepada Bupati Agus yang kemudian diserahkan kepada juru kunci makam. Selanjutnya, songsong diberikan kepada Kapolres Boyolali AKBP Indra Maulana Saputra yang diserahkan kepada juru kunci. Dan kemudian Dandim 0724/Boyolali Gunawan Nurbathin menerima bunga yang juga diserahkan kepada juru kunci.
Usai serah terima tersebut, Bupati beserta Jajaran Forkopimda dan juru kunci makam melakukan ritual penggantian luwur di makam Syech Maulana Ibrahim Maghribi sekaligus menabur bunga diatas luwur tersebut.
Selain Syech Maulana Ibrahim Maghribi, tokoh-tokoh yang dimakamkan di Makam Pantaran ini adalah Dewi Nawangwulan, Ki Ageng Pantaran, Ki Ageng Mataram dan Ki Ageng Kebo Kanigoro.
Ditemui usai acara, Bupati Agus mengungkapkan, acara ini adalah bentuk nguri-uri tradisi yang harus diwariskan kepada generasi penerus. Menurutnya, tradisi ini juga merupakan bentuk terimakasih dan rasa syukur atas perjuangan leluhur yang sudah menerapkan banyak ilmu yang bisa menata Boyolali hingga saat ini.
“Tentunya untuk tetap selalu nguri-uri tradisi yang nanti harus kita wariskan juga pada penerus kita,” ungkap orang nomor satu di Kota Susu itu.
Senada, Plt. Kepala Disporapar Kabupaten Boyolali, Candra Irawan mengatakan, Tradisi Buka Luwur ini bertujuan untuk melestarikan budaya yang ada di Kabupaten Boyolali. Selain itu, kegiatan ini juga merupakan wujud syukur masyarakat Desa Candisari, serta untuk nguri-uri nilai-nilai leluhur yang sudah ada selama ini.
“Kedepan, kami akan menginventarisir beberapa tempat-tempat yang memang nanti akan kami jadikan lokasi wisata untuk menjadi unggulan. Tentunya ada alam, religi, kemudian spot tourism, kedepan akan menjadi event tahunan yang mungkin akan teragenda lebih baik lagi.” bebernya.
Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Boyolali, Harnowo menyampaikan, sebelum melaksanakan Ritual Buka Luwur, masyarakat telah menggelar acara Sedekah Tuk Tempuran pada Kamis (9/7/2026) sore. Sedekah Tuk Tempuran melibatkan masyarakat yang memanfaatkan air dari mata air Sipendok dan Simuncar.
Kegiatan itu, lanjut Harnowo, dilaksanakan di tempuran atau lokasi bertemunya dua mata air dengan menggelar kenduri yang berupa ingkung dan tumpeng. Ia berharap, Sedekah Tuk Tempuran ini juga akan menjadi agenda budaya tahunan.
“Tujuannya adalah untuk memetri tuk, semoga pengguna air diberikan kesehatan jugakepada pengguna air agar senantiasa menjaga mata air tetap keluar airnya dan bermanfaat untuk anak cucu.” kata Harnowo. (Kisno/Roll)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....