Kerap Diterobos Pengendara, Proyek Jalan TAA Kejar Target Rampung Agustus

  • 10 Jul 2026 14:55 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Progres pengerjaan rigid beton pada proyek perbaikan jalan Tanjung Api-Api telah mencapai 82 persen hingga pertengahan Juli 2026, dengan empat segmen awal sudah rampung total.
  • Enam segmen sisanya di titik STA 5 sampai STA 10 ditargetkan selesai pada Agustus mendatang, namun menghadapi tantangan kemacetan lalu lintas yang sangat padat.
  • Pengguna jalan secara tidak disiplin menggeser barrier beton pada malam hari untuk menerobos jalur, sementara beton idealnya memerlukan 21 hari untuk siap dilalui kendaraan.

RRI.CO.ID, Palembang - Proyek perbaikan jalan di jalur logistik Tanjung Api-Api (TAA) terus dipacu. Hingga pertengahan Juli ini, progres pengerjaan rigid beton pada 10 segmen jalan tersebut telah menyentuh angka 82 persen. Empat segmen awal sudah rampung total, sementara enam segmen sisanya di titik STA 5 sampai STA 10 ditargetkan selesai pada Agustus mendatang.

Namun, pengerjaan di sisa segmen ini menjadi ujian terberat bagi tim di lapangan. Pasalnya, titik STA 5 hingga STA 10 berada di zona dengan volume kendaraan berat yang sangat padat. Kerap kali, alat berat terpaksa menganggur akibat kemacetan panjang.

"Kendala terbesar kami adalah lalu lintas yang cukup padat. Kalau ada kendaraan mogok, kami harus menunggu sampai dievakuasi terlebih dahulu. Kemacetan bahkan bisa mengular hingga sekitar 10 kilometer sebelum pekerjaan dapat dilanjutkan," ujar PPK 3.3 Satker PJN III Sumsel, Camelia Nazir kepada wartawan, Jumat, 10 Juli 2026.

Selain problem kemacetan, ketidakdisiplinan pengguna jalan menjadi tantangan serius yang mengancam kualitas fisik jalan. Camelia membeberkan, pembatas jalan (barrier) beton yang dipasang kerap kali digeser secara sepihak oleh oknum pengendara pada malam hari demi menerobos jalur.

"Padahal beton itu belum cukup umur untuk dilalui kendaraan. Kami sudah memasang barrier beton, tetapi kadang malam hari digeser oleh pengguna jalan. Akibatnya, kalau ada kerusakan kami harus memperbaikinya lagi," kata Camelia.

Secara teknis, beton idealnya baru boleh dilalui kendaraan setelah berumur 21 hari. Akibat tingginya desakan arus lalu lintas, tak jarang kendaraan sudah melintas di umur beton 14 hari. Mengantisipasi penurunan mutu akibat pemaksaan jalur ini, pengawasan ketat dilakukan di setiap segmen pasca-pengecoran.

Camelia menegaskan tidak akan menoleransi penurunan kualitas akibat gangguan di lapangan. Uji kelayakan ketat tetap diberlakukan pada setiap jengkal jalan yang selesai dicor.

"Kalau hasil tes menunjukkan kualitasnya kurang baik, khususnya pada titik tertentu, kami bongkar lagi dan kami cor ulang. Jadi kami tidak mau mengorbankan mutu pekerjaan," tegasnya.

Proyek infrastruktur bernilai Rp24 miliar ini beruntung didukung oleh cuaca yang relatif bersahabat dalam beberapa pekan terakhir. Rendahnya intensitas hujan membuat proses pengeringan beton berjalan lebih optimal tanpa hambatan eksternal berarti. Sejauh ini, realisasi anggaran dari proyek tersebut telah menyerap dana sekitar Rp11 miliar.

Pemerintah juga sudah memetakan langkah lanjutan. Mengingat belum seluruh kerusakan di jalur TAA terakomodasi dalam proyek Rp24 miliar ini, titik-titik sisa yang belum tersentuh akan ditangani lewat mekanisme di luar kontrak utama.

"Kami optimistis target Agustus bisa tercapai. Yang terpenting saat ini masyarakat juga mendukung dengan mematuhi pengaturan lalu lintas dan tidak melintasi beton yang belum cukup umur agar hasil pekerjaan tetap berkualitas," pungkas Camelia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....