Inilah Hakikat Hijrah Jiwa menuju Kualitas Iman Terbaik

  • 10 Jul 2026 10:42 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Makna hijrah dalam Islam sering kali disalahartikan sekedar

perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat yang lain. Walaupun sejarah

mencatatkan peristiwa agung hijrah Rasulullah s.a.w. dari Makkah ke Madinah

bersama para sahabat sekitar 1448 tahun yang lalu sebagai detik perubahan

besar, hakikat hijrah bagi umat akhir zaman ini membawa dimensi yang jauh

lebih mendalam, yaitu transformasi spiritual yang berkelanjutan.

Ustad H. Alip Mulyono dalam Mutiara Pagi Pro 1 RRI Yogyakarta, 8 Juli 2026 mengatakan, merujuk kepada firman Allah S.W.T. dalam Surah al-Baqarah, ayat 218, golongan yang benar-

benar beriman, menetapi keimanan mereka, sentiasa berhijrah, serta berjihad di jalan Allah

merupakan mereka yang digolongkan sebagai penerima rahmat Allah S.W.T., di mana Dia Maha

Pengampun lagi Maha Penyayang. Ayat ini mengandung kupasan makna yang lengkap

mengenai tuntutan penghijrahan kualitas diri seorang hamba.

“Hijrah yang dituntut bukanlah iman yang sekedar "ala kadar", melainkan iman yang

sentiasa bergerak maju. Seiring bertambahnya waktu, usia, dan hari, keimanan

seseorang sepatutnya tidak semakin menurun, melainkan semakin menebal dan kokoh.”ujarnya.

Untuk memastikan penghijrahan itu benar-benar menyelamatkan diri di dunia dan akhirat,

terdapat perubahan menyeluruh yang meliputi beberapa aspek utama kehidupan manusia:

1. Pemurnian Akidah (Rububiyah & Uluhiyah): Seseorang harus sentiasa memperbaharui dan

memperbaiki akidahnya. Secara fitrah, semua manusia menyepakati Akidah Rububiyah—

yaitu mempercayai Allah sebagai Pencipta, Pemberi Rezeki, dan Pemelihara alam semesta.

Namun, pengakuan ini harus melahirkan konsekuensi Akidah Uluhiyah yang murni, yaitu

mengesakan penyembahan hanya kepada Allah semata-mata, sesuai dengan kalimat tauhid

La ilaha illallah (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah).

2. Peningkatan Kualitas Ibadah: Menjalankan amalan ritual dengan penuh kesadaran dan

Keiklasan hati.

3. Akhlak yang Mulia: Keimanan yang mantap terpancar melalui tingkah laku yang

harmoni seperti sifat sabar dan tidak mudah marah dalam pergaulan bermasyarakat dan

bertetangga.

4. Integritas dalam Muamalah Duniawiah:

Firman Allah S.W.T. (Surah al-Baqarah: 218):

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah serta berjihad

pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah

Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang."

5 .Jihad Menentang Hawa Nafsu: Cabaran Khusyuk dalam Solat

Tuntutan seterusnya dalam ayat tersebut adalah wajahadu fisabilillah (dan mereka berjihad di

jalan Allah). Dalam konteks kehidupan harian, jihad ini lebih condong kepada kesungguhan yang

total dalam menetapi iman dan melakukan perubahan positif pada empat aspek (akidah, ibadah,

akhlak, dan muamalah), serta memerangi hawa nafsu sendiri.

Melalui kesungguhan melakukan transformasi secara konsisten dari waktu ke waktui, umat

Islam diharapkan tidak membiarkan grafik keimanan mereka merosot, sebaliknya terus

naik sehingga mencapai kualitas terbaik demi meraih rahmat Allah S.W.T.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....