Prodi PGSD UPI Purwakarta Gelar Program Bakti Masyarakat di Sendangsari

  • 08 Jul 2026 17:46 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Kulon Progo - Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Kampus Purwakarta, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Sanggar Among Lare, Sendang Sari, Selasa dan Rabu 8 - 9 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan wujud nyata dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang difokuskan pada peningkatan literasi masyarakat.

Ketua Program Studi PGSD UPI Purwakarta, Dr Neneng Sri Wulan, MPd, menjelaskan, program pengabdian masyarakat tersebut mengusung tiga pilar literasi dalam rangka mendukung perkembangan anak dan peningkatan kesejahteraan masyarakat saat ini.

"Salah satu program Tri Dharma Perguruan Tinggi yang diimplementasikan disini adalah literasi membaca, literasi finansial, dan literasi lingkungan," ujarnya, Rabu 8 Juli 2026.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini, ujar Neneng, berlangsung selama dua hari, yakni pada hari Rabu dan Kamis. Sasaran utamanya adalah para orang tua siswa serta anak-anak usia sekolah dasar, dengan harapan mereka mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari setelah mengikuti pelatihan.

Neneng menyebutkan, pihak panitia mengundang sekitar 30 orang tua yang aktif dan 30 siswa sekolah dasar, dalam sosialisasi dan pelatihan tersebut.

Pemilihan program ini didasari atas keresahan mendalam terhadap kondisi literasi di Indonesia. Berdasarkan berbagai hasil penelitian, baik domestik maupun internasional—seperti indeks alibaca, penelitian EGRA, Pirls, dan PISA, menunjukkan bahwa kemampuan membaca anak-anak di Indonesia masih tergolong rendah dan belum mengalami perkembangan yang signifikan.

Selain ituu, tim PGSD UPI Purwakarta juga menilai pentingnya mengenalkan literasi finansial dan lingkungan sejak dini.

"Literasi finansial memang masih tergolong asing bagi masyarakat. Kami ingin memperkenalkannya kepada anak-anak agar mereka bisa menjadi generasi yang lebih baik dari generasi kami dalam hal pengelolaan keuangan. Begitu pula dengan literasi lingkungan," katanya.

Sebagai luaran (output) nyata dari kegiatan ini, ungkapnya, anak-anak diajak mempraktikkan langsung integrasi antara literasi finansial dan literasi lingkungan. Mereka diajarkan untuk mengolah bahan-bahan bekas di sekitar mereka menjadi celengan.

Melalui media celengan buatan sendiri tersebut, peserta diharapkan dapat langsung mengimplementasikan budaya menabung dan memahami cara mengelola uang dengan bijak sekaligus menjaga kelestarian lingkungan sekitar.

"Kami berharap program pengabdian ini dapat memberikan kontribusi positif yang berkelanjutan dan bermanfaat luas bagi kemajuan masyarakat Sendang Sari," katanya.

Lurah Sendangsari, Suhardi, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kepedulian UPI Purwakarta yang memilih wilayahnya sebagai lokasi pengabdian. Ia menilai materi yang dihadirkan, seperti tata kelola finansial, pengelolaan lingkungan, dan budaya gemar membaca, sangat relevan dengan kebutuhan warganya saat ini.

"Kami sangat berterima kasih karena hari ini dan besok pagi ada program kegiatan literasi. Yang pertama terkait tata kelola finansial atau keuangan, dan juga pengelolaan terkait dengan lingkungan," ujarnya.

Menurut Suhardi, tantangan sosial di era modern ini adalah bergesernya kebiasaan positif masyarakat terdahulu. Kebiasaan menabung di kalangan anak-anak kini dirasakan semakin menurun, bahkan cenderung hilang.

Selain masalah keuangan, persoalan pengelolaan lingkungan juga dirasa belum maksimal dan membutuhkan edukasi yang berkelanjutan. Beliau berharap nilai-nilai budaya masa lalu yang baik dapat dihidupkan kembali agar tidak terkikis oleh pengaruh luar.

"Mudah-mudahan budaya terkait pengelolaan lingkungan dan keuangan, seperti budaya menabung dulu, bisa diadakan kembali karena budaya itu kini mulai terkikis," ucapnya, menambahkan.

Suhardi juga menaruh perhatian serius pada pilar literasi ketiga, yaitu budaya gemar membaca. Ia menyatakan keprihatinannya melihat fenomena anak-anak zaman sekarang yang lebih banyak menghabiskan waktu luang dan jam belajar mereka untuk bermain gawai (handphone) daripada membaca buku.

Ia menegaskan bahwa peran orang tua dan pemerintah kelurahan sangat krusial dalam memberikan edukasi serta menetapkan batasan, seperti penerapan jam belajar masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....