JAFF Market 2026 Perkuat Ekosistem Industri Film Indonesia

  • 30 Jun 2026 15:35 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Industri perfilman Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang positif di tengah persaingan yang semakin ketat. Menyikapi perkembangan tersebut, Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) kembali menghadirkan JAFF Market sebagai pasar film pertama dan terbesar di Indonesia yang menjadi wadah kolaborasi bagi pelaku industri perfilman nasional maupun internasional.

Memasuki penyelenggaraan ketiga, JAFF Market kembali bekerja sama dengan Amar Bank sebagai mitra utama. Kegiatan yang akan berlangsung pada 28–30 November 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, ini dirancang untuk memperkuat ekosistem perfilman dengan mempertemukan kreator, produser, investor, distributor, hingga berbagai institusi pendukung industri.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan pemerintah terus memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan JAFF Market sebagai bagian dari upaya memperkuat industri film nasional.

"Kita tidak hanya ingin menjadi pasar bagi film-film dunia, tetapi juga memperkuat kapasitas produksi, distribusi, dan pembiayaan agar semakin banyak karya Indonesia yang mampu bersaing di tingkat internasional," kata Fadli Zon.

Menurut Fadli, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam membangun industri perfilman yang berdaya saing. Kehadiran JAFF Market dinilai mampu menjadi ruang strategis yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk memperluas jejaring, membuka peluang investasi, serta meningkatkan akses karya dan talenta Indonesia ke pasar global.

"Harapannya agar ekosistem perfilman Indonesia yang sedang tumbuh ini dapat berkembang secara inklusif dan berkelanjutan," ujarnya.

Di tengah perlambatan ekonomi nasional, sektor perfilman justru memperlihatkan daya tahan yang kuat. Data Cinepoint dalam laporan Industry Trends and Performance in H1 2026 mencatat sebanyak 13 film Indonesia berhasil meraih lebih dari satu juta penonton sebelum semester pertama tahun ini berakhir. Capaian tersebut menjadi yang tercepat dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

Market Director JAFF Market, Linda Gozali, menilai perkembangan tersebut menandakan industri film Indonesia memasuki fase yang semakin matang. Menurutnya, tantangan saat ini bukan lagi sekadar memproduksi lebih banyak film, tetapi memastikan setiap proyek memperoleh akses terhadap pembiayaan, pasar, dan peluang kolaborasi.

"Di sinilah JAFF Market mengambil peran sebagai market hub. Kami melihat semakin banyak proyek menemukan mitra pendanaan, talenta memperoleh peluang pengembangan, dan IP Indonesia menjangkau pasar yang lebih luas. Pengalaman dua tahun terakhir menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap platform industri seperti JAFF Market terus meningkat, seiring semakin besarnya minat investasi dan kolaborasi di sektor perfilman," kata Linda.

Hal senada disampaikan Festival Director JAFF, Ifa Isfansyah. Menurutnya, pertumbuhan industri perlu diimbangi dengan ekosistem yang mampu menghubungkan pelaku industri dengan investor maupun pasar.

“Indonesia memiliki talenta dan kekayaan intellectual property (IP) yang besar, namun masih membutuhkan infrastruktur industri yang mampu memperluas peluang kolaborasi dan pengembangan bisnis secara berkelanjutan,” katanya.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, JAFF Market 2026 tetap menghadirkan sejumlah program utama yang mencakup seluruh rantai industri perfilman. Program-program tersebut meliputi Film Industry Exhibitions, JAFF Future Project, Talent Day, Film Lab, Film & Market Conference, Market Screening, Company Showcase, Networking Events, hingga JAFF IP Connection.

Kerja sama yang kembali terjalin dengan Amar Bank juga mencerminkan meningkatnya perhatian sektor keuangan terhadap potensi ekonomi industri kreatif, khususnya perfilman. Kolaborasi ini tidak hanya mendukung penyelenggaraan acara, tetapi juga membuka peluang lahirnya skema pembiayaan yang lebih sesuai dengan karakter industri kreatif.

Presiden Direktur Amar Bank, Vishal Tulsian, menilai pengembangan sektor kreatif membutuhkan pendekatan baru dalam akses pembiayaan.

“JAFF Market telah secara konsisten membuktikan perannya sebagai hub yang kuat dalam membangun ekosistem yang terintegrasi bagi industri film dan kreatif. Oleh karena itu, dukungan kami terhadap JAFF Market 2026 merupakan langkah untuk mendorong ekosistem multi pemangku kepentingan, di mana kami mengajak para pembuat kebijakan dan pelaku industri untuk berkolaborasi dalam merancang layanan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan industri kreatif. Dengan bergerak menuju solusi yang selaras dengan model bisnis unik industri ini, kita dapat memastikan bahwa potensi kreatif dapat sepenuhnya ditransformasikan menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Vishal.

Sebagai bagian dari penguatan industri dari hulu hingga hilir, JAFF Market bersama Amar Bank juga menggandeng Badan Perfilman Indonesia (BPI) dan sejumlah asosiasi perfilman, seperti APROFI, IFDC, PILAR, INAFEd, ICS, serta ACI. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas pelaku industri sekaligus mendorong lahirnya inovasi, pemanfaatan teknologi, dan model bisnis baru yang mampu memperkuat daya saing perfilman Indonesia.

Tak hanya berfokus pada penyelenggaraan di dalam negeri, JAFF Market juga terus memperluas jejaring internasional melalui partisipasi dalam berbagai forum industri dunia, seperti Marché du Film di Cannes, Asian Contents & Film Market di Busan, serta Asia TV Forum & Market (ATF) di Singapura. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkenalkan kreator dan kekayaan intellectual property Indonesia sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di pasar global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....