Mengenal Biosolar B50, Bahan Bakar yang Diterapkan Per 1 Juli

  • 30 Jun 2026 11:06 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri- Pemerintah secara resmi mengeluarkan kebijakan penggunaan Biosolar B50 mulai 1 Juli 2026. Masyarakat terlebih yang bekerja di lingkup industri dan pertambangan diharapkan dapat segera beradaptasi dan mendapat manfaat darinya. Terutama dalam rangka menekan emisi gas karbon yang berpengaruh pada pencemaran lingkungan dan mengurangi ketergantungan negara terhadap bahan bakar fosil.

Menguti dari Global Group, Biosolar B50 adalah campuran bahan bakar diesel yang terdiri dari 50% minyak sawi dan 50% bahan bahar solar murni. Peningkatan persentase nabati ini bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, menekan ketergantungan pada impor minyak mentah, dan mengoptimalkan penyerapan produksi kelapa sawit dalam negeri.

Secara makro, langkah ini sangat positif. Namun secara mikro operasional, mesien diesel berkapasitas besar bagi para kontraktor atau pengusaha, akan membutuhkan presentase biodiesel yang lebih tinggi. Di sisi lain, Biosolar memiliki kecenderungan mengikat kelembapan air dari udara lebih cepat daripada solar biasa. Kandungan air yang tinggi di dalam tangki dapat menurunkan efisiensi pembakaran dan memicu korosi pada komponen ruang bakar.

Namun jika ditinjau lebih mendalam, bahan bakar ini menawarkan solusi energi yang lebih hijau dan berkelanjutan. Dengan pemahaman teknis yang baik dan penyesuaian pada Standard Operating Procedure (SOP) perawatan khususnya pada sistem filtrasi bahan bakar, performa unit di lapangan akan tetap andal, dan efisien.

Dikutip dari laman Kementerian ESDM, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengatakan secara terbuka bahwa implementasi program mandatori biodiesel B50 (campuran 50% bahan bakar nabati) akan menjadi kunci sebagai substitusi seluruh kebutuhan solar impor. Berdasarkan data yang telah dihimpun, pemanfaatan biodiesel dari tahun 2020 hingga 2025 berhasil menghemat devisa hingga USD40,71 miliar.

Pemerintah juga memproyeksikan adanya potensi penghematan devisa tambahan yang sangat besar, yakni mencapai USD10,84 miliar hanya dalam satu tahun implementasinya di 2026. Untuk mewujudkan target tersebut, peningkatan kapasitas produksi FAME (Fatty Acid Methyl Ester/ menjadi syarat mutlak. Pasokan FAME harus digenjot dari 15,6 juta kiloliter pada 2025 menjadi 20,1 juta kiloliter pada 2026.

Peningkatan produksi ini tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga menciptakan efek ganda pada perekonomian melalui penyerapan tenaga kerja yang masif, diperkirakan mencapai 2,5 juta orang di perkebunan dan 19 ribu orang di pabrik pengolahan

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....