Rocky Gerung Ajak Mahasiswa Berani Lahirkan Gagasan Revolusioner di Magetan

  • 29 Jun 2026 01:28 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Magetan - Pengamat politik Rocky Gerung mengajak mahasiswa untuk kembali menghidupkan tradisi berpikir kritis dan melahirkan gagasan-gagasan besar yang mampu mendorong perubahan mendasar bagi bangsa. Ajakan tersebut disampaikannya dalam Soekarno Talk bertajuk Bedah Buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z yang digelar DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magetan di Aula Wisma Perjuangan, Desa Bibis, Kecamatan Sukomoro, Minggu (28/6/2026) malam.

Dalam paparannya, Rocky menilai perubahan yang dibutuhkan Indonesia bukan sekadar perubahan administratif atau pergantian kebijakan, melainkan perubahan yang menyentuh sistem. Menurutnya, konsep tersebut dalam pemikiran Bung Karno dikenal sebagai perubahan yang bersifat revolusioner.

Ia mengatakan istilah revolusi kini cenderung dihindari dan digantikan dengan berbagai istilah lain, seperti reformasi maupun restorasi. Padahal, reformasi menurutnya lebih banyak mengubah bentuk, sementara perubahan revolusioner menitikberatkan pada pembenahan struktur dan sistem.

"Kalau kita benar-benar ingin melakukan perubahan, yang harus diperdebatkan adalah bagaimana mengubah sistem. Itulah yang disebut perubahan revolusioner," ujar Rocky.

Menurutnya, pemahaman mengenai perubahan revolusioner menjadi bagian penting dalam mempelajari Marhaenisme maupun Marxisme. Kedua pemikiran tersebut, kata dia, sama-sama menempatkan perubahan sistem sebagai jalan untuk menghadirkan keadilan sosial.

Rocky kemudian mengajak mahasiswa menilai berbagai kebijakan pemerintah secara kritis, termasuk apakah kebijakan yang dijalankan benar-benar menghasilkan perubahan mendasar bagi masyarakat. Ia juga mendorong kalangan akademisi agar menjadikan ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi sebagai fondasi lahirnya inovasi.

"Pertanyaannya, apakah kalian sebagai mahasiswa mampu melahirkan gagasan-gagasan yang revolusioner? Perubahan besar selalu lahir dari keberanian berpikir dan mengembangkan ide-ide baru," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Rocky juga menyoroti melemahnya fungsi pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Menurutnya, ketika fungsi check and balance tidak berjalan optimal, mahasiswa kerap mengambil peran sebagai penyampai kritik melalui aksi demonstrasi.

Ia menyebut, apabila pemerintah menginginkan mahasiswa kembali fokus di kampus, maka DPR juga harus menjalankan tugas konstitusionalnya sebagai pengawas pemerintah.

"Kalau mahasiswa kembali ke kampus, DPR harus benar-benar menjalankan fungsi pengawasan terhadap pemerintah. Mereka dipilih untuk mewakili suara rakyat," ujarnya.

Rocky juga mengkritik proses pengambilan kebijakan yang dinilai terlalu panjang karena harus melewati berbagai jenjang birokrasi. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat banyak kebijakan tidak sepenuhnya dirasakan masyarakat dan justru memperlebar kesenjangan sosial.

Ia menilai baik lembaga eksekutif maupun legislatif masih menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan keadilan sosial sebagaimana cita-cita yang diajarkan dalam Marhaenisme.

Selain itu, Rocky menyoroti pentingnya perhatian terhadap ibu hamil sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia. Menurutnya, kualitas generasi mendatang ditentukan sejak masa kehamilan sehingga kebijakan negara tidak cukup hanya berfokus pada pemenuhan gizi anak, tetapi juga harus memperhatikan kesehatan dan kecukupan gizi ibu.

Ia menambahkan, berbagai program sosial, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG), merupakan langkah yang baik. Namun, program tersebut dinilai akan lebih efektif apabila dibarengi dengan kebijakan yang menyentuh akar persoalan, yakni peningkatan kesejahteraan keluarga dan pemenuhan kebutuhan gizi ibu hamil.

Di sela-sela diskusi, Rocky sempat mencairkan suasana dengan menceritakan pengalamannya selama berada di Magetan. Ia mengaku senang mendapat sambutan hangat dari masyarakat.

"Saya senang bisa datang ke Magetan. Tadi saya bahkan diarak, itu menjadi pengalaman yang menyenangkan," ujarnya.

Rocky juga mengaku sempat berburu kuliner khas Magetan, yakni pecel. Namun usahanya belum berhasil karena saat tiba di Magetan, pecel sudah tidak lagi dijual.

"Saya tadi mencari pecel, ternyata pecel hanya ada pada pagi hari. Nanti lain kali saya datang pagi-pagi supaya bisa menikmati pecel," katanya sambil berkelakar.

Ketika ditanya mengenai berbagai persoalan di Kabupaten Magetan, Rocky memilih tidak memberikan penilaian secara langsung. Ia justru menyarankan agar pertanyaan tersebut ditujukan kepada pemerintah daerah.

"Kalau itu tanyakan kepada pemerintah, jangan kepada saya. Yang saya sampaikan tadi, jadikan Magetan sebagai ibu kota berpikir," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....