Refleksi Nilai Luhur di Helaran Pajajaran Tingkat Kota Bogor
- 29 Jun 2026 20:57 WIB
- Bogor
Poin Utama
- Helaran Budaya
RRI.CO.ID, Bogor - Penyelenggaraan Helaran Pajajaran bukan sekadar pesta rakyat tahunan, melainkan sebuah momentum krusial bagi masyarakat untuk menyadari pentingnya menjaga dan melestarikan akar budaya daerah. Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menegaskan bahwa merawat warisan sejarah Kerajaan Pakuan Pajajaran adalah kunci dalam mempertahankan identitas di tengah era modern.
Menurut Dedie, pelestarian budaya dan pemahaman sejarah bukan sekadar upaya romantis untuk mengenang masa lalu. Lebih dari itu, nilai-nilai tradisi harus dijadikan pijakan kuat dalam membangun karakter masyarakat yang berbasis pada kearifan lokal.
Tri Tangtu: Falsafah Hidup yang Harus Dijaga
Salah satu bukti pentingnya pelestarian naskah dan nilai kuno terlihat dari warisan leluhur masyarakat Sunda, khususnya Bogor, yang tercantum dalam kitab Sanghyang Siksa Kandang Karesian. Di dalamnya terkandung konsep Tri Tangtu yang menjadi pedoman hidup bermasyarakat.
Nilai-nilai Tri Tangtu inilah yang terbukti berhasil membentuk karakter masyarakat Bogor menjadi pribadi yang santun, menjunjung tinggi adab, serta mengedepankan kebersamaan. Kehilangan budaya ini berarti kehilangan jati diri asli warga Bogor.
Edukasi Budaya Lewat Ruang Publik
Upaya mentransfer nilai budaya ke generasi muda diwujudkan secara visual melalui Helaran Pajajaran. Ketua Panitia HJB ke-544, Iceu Pujiati, menjelaskan bahwa acara ini mengemas perjalanan sejarah dari masa kepemimpinan Prabu Siliwangi hingga era pemerintahan modern saat ini agar lebih mudah dipahami masyarakat.
Pelestarian budaya ini juga dikemas secara inklusif dengan melibatkan sekitar 1.500 peserta dari berbagai elemen seperti Komunitas dan sanggar seni, Paguyuban kebudayaan, Perangkat daerah dan instansi serta berbagai organisasi masyarakat
Uniknya, setiap kecamatan di Kota Bogor turut mengaktualisasikan kekayaan lokal mereka melalui visualisasi tema khusus, seperti Pamong Kantara, Sang Kriya Juwara, Rantang Panen, Smarakarya Jagat di Buana, Simfoni Budaya, Ketahanan Pangan, dan Kekayaan Alam. Hal ini membuktikan bahwa budaya bisa berjalan beriringan dengan potensi ekonomi dan alam wilayah.
Meskipun acara yang sarat akan edukasi budaya ini berlangsung hingga pukul 22.00 WIB dan sempat memerlukan rekayasa arus lalu lintas, antusiasme warga tetap tinggi. Jalanan yang kembali dibuka normal pada pukul 22.20 WIB menjadi saksi bahwa ruang publik pun bisa menjadi panggung yang efektif untuk menyuarakan pentingnya merawat warisan leluhur.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....