Lonjakan Kasus Campak di Kota Jambi Mencapai 6 Kali Lipat Dari Periode Tahun Lalu
- 29 Jun 2026 13:33 WIB
- Jambi
RRI.co.id, Jambi - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jambi mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk segera melengkapi status imunisasi anak-anak mereka. Langkah antisipatif ini diambil menyusul ditemukannya lonjakan kasus campak yang signifikan di wilayah tersebut sepanjang tahun 2026 hingga 6 Kali Lipat dari Tahun Sebelumnya pada periode yang sama.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Kota Jambi, Rini Kartika Handajani, mengingatkan bahwa campak merupakan penyakit menular berbahaya yang disebabkan oleh infeksi virus. Gejala utamanya meliputi demam tinggi yang disertai munculnya ruam merah pada kulit.
"Penyakit ini tidak boleh diremehkan karena dapat menimbulkan komplikasi serius hingga menyebabkan kematian, apabila infeksi sudah menyebar ke organ vital seperti paru-paru dan otak," ujar Rini di Jambi.
Oleh karena itu, Rini menegaskan bahwa pemberian imunisasi campak sejak usia balita menjadi langkah paling efektif dan utama untuk memutus rantai penularan penyakit tersebut.
Didominasi Anak Usia Sekolah
Berdasarkan data yang dirilis Dinkes Kota Jambi per 17 Juni 2026, tercatat ada 681 kasus dugaan (suspek) campak yang ditemukan di masyarakat.
Dari total data tersebut, rincian kategorinya adalah sebagai berikut:
Campak klinis: 612 kasus
Terkonfirmasi positif laboratorium: 5 kasus
Dinyatakan negatif: 10 kasus
Gejala demam disertai ruam (belum terklasifikasi): 54 kasus
Jika dilihat dari pemetaan usia, penularan tertinggi justru didominasi oleh kelompok anak usia sekolah. Kasus terbanyak ditemukan pada kelompok usia 5 hingga 9 tahun dengan jumlah 213 kasus.
Disusul kemudian oleh kelompok usia 2 hingga 4 tahun sebanyak 176 kasus, dan usia di atas 10 tahun sebanyak 157 kasus. Sementara untuk usia bayi dan toddler, tercatat ada 76 kasus pada usia 12 hingga 23 bulan, serta 59 kasus pada bayi di bawah usia 12 bulan.
Terkendala Anggaran Laboratorium
Lebih lanjut, Rini menjelaskan bahwa penegakan diagnosis campak secara akurat idealnya harus melalui pemeriksaan sampel darah. Namun, sampel tersebut harus dikirimkan terlebih dahulu ke laboratorium rujukan yang berada di Jakarta.
"Keterbatasan anggaran menyebabkan pemeriksaan laboratorium ini belum dapat dilakukan terhadap seluruh kasus yang ditemukan. Akibatnya, sebagian besar diagnosis yang kami keluarkan saat ini masih berdasarkan gejala klinis yang tampak pada pasien," terangnya.
Meski menghadapi kendala operasional, Dinkes Kota Jambi memastikan langkah penanggulangan di lapangan tetap berjalan secara intensif.
Saat ini, pihak Dinkes fokus melakukan empat upaya pengendalian utama, yaitu pengobatan langsung kepada pasien yang bergejala, investigasi kontak erat untuk memetakan penyebaran, pemberian edukasi kesehatan kepada pihak keluarga, serta menggencarkan program imunisasi kejar bagi anak usia 9 bulan yang tercatat belum mendapatkan imunisasi campak dasar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....