Gita Wirjawan: SDM Kunci Hadapi Era AI dan Transisi Energi
- 28 Jun 2026 13:18 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Mantan Menteri Perdagangan Indonesia Gita Wirjawan menekankan bahwa kualitas sumber daya manusia menjadi faktor utama dalam menghadapi dinamika geopolitik serta pesatnya perkembangan teknologi global. Menurutnya, peralihan menuju energi terbarukan kini semakin memungkinkan seiring turunnya biaya penyimpanan energi surya menggunakan baterai secara signifikan.
Ia menilai kondisi tersebut membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi nasional.
"Pertumbuhan ekonomi membutuhkan elektrifikasi. Konsumsi listrik per kapita Indonesia masih relatif rendah, sehingga peningkatan kapasitas energi menjadi prasyarat menuju negara maju," ujarnya dalam Forum Pemikiran Bulaksumur yang diselenggarakan Dewan Guru Besar UGM yang bertajuk tema "Krisis Iklim, Mitigasi Bencana, dan Inovasi Teknologi Ramah Lingkungan" di Balai Senat UGM, Rabu, 24 Juni 2026. .
Selain mendorong percepatan transisi energi, Gita juga mengingatkan bahwa Indonesia tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, terutama kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Menurutnya, Indonesia harus mampu berperan sebagai pencipta inovasi melalui penguatan riset, pengembangan teknologi, dan peningkatan kapasitas nasional. Ia menambahkan, banyak negara yang berhasil menjadi kekuatan teknologi karena berani melakukan lompatan besar, bukan sekadar berkembang secara bertahap.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik UGM, Prof. Ir. Selo, mengatakan Fakultas Teknik UGM terus menumbuhkan budaya inovasi yang berlandaskan semangat Panca Brata Herman Yohannes, yakni menjadi penemu, perintis, patriot, berpikir alternatif, dan ulet. Semangat tersebut diwujudkan melalui pembangunan berbagai fasilitas pembelajaran berkelanjutan, seperti Smart Green Learning Center (SGLC) dan Engineering Research Innovation Center (ERIC), yang menjadi ruang kolaborasi untuk riset dan pengembangan teknologi ramah lingkungan.
Selain menghadirkan infrastruktur pendukung, Fakultas Teknik UGM juga mengembangkan sejumlah inovasi yang telah dimanfaatkan masyarakat, di antaranya pewarna alami "Indi" dan teknologi peningkatan kualitas pangan "Gamahumat". Menurut Selo, keberhasilan inovasi tidak hanya diukur dari publikasi ilmiah, tetapi juga dari manfaat nyata dalam meningkatkan kemandirian bangsa dan menjawab kebutuhan masyarakat.
Di kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM, Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si., menilai transformasi besar harus dimulai dari pembenahan sistem pendidikan tinggi. Ia berpendapat metode pembelajaran konvensional perlu dikembangkan menjadi project-based learning (PBL) agar mahasiswa terbiasa menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Sebagai contoh, ia menyoroti persoalan sampah yang tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga menyangkut moral, perilaku, dan tanggung jawab sosial. Karena itu, mata kuliah wajib di perguruan tinggi perlu dirancang lebih aplikatif sehingga mahasiswa mampu bekerja secara lintas disiplin untuk menghasilkan solusi yang berdampak nyata.
"Pendidikan harus membawa mahasiswa keluar dari ruang kelas untuk menyelesaikan persoalan nyata. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga kepedulian sosial dan kemampuan memecahkan masalah," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....