Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Lantik Pengurus PWNU Aceh
- 28 Jun 2026 09:45 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), melantik 119 pengurus Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh masa khidmat 2026-2031, di Hotel Grand Aceh Syariah, Lamdom, Banda Aceh, pada Sabtu malam, 27 Juni 2026. Dalam kepengurusan baru tersebut, Tgk. Nuruzzahri Yahya atau Waled NU dipercaya sebagai Rais Syuriyah, sementara posisi Ketua Tanfidziyah dipercayakan kepada Tgk. Faisal Ali. Adapun Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Mujiburrahman menjabat sebagai Katib Syuriyah.
Pelantikan dilakukan langsung oleh Rais Syuriah PBNU, KH. Muhammad Cholil Nafis dan dihadiri Wakil Ketua Umum PBNU, KH. Amin Said Husni dan Wakil Sekjen PBNU, KH Amir Ma'ruf bersama para ulama, akademisi, serta tokoh masyarakat dari berbagai daerah di Aceh. Penetapan kepengurusan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan PBNU Nomor 189/PB.01/A.II.01.44/99/04/2026 tentang pengesahan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Aceh periode 2026-2031.
Dalam struktur organisasi, Katib Syuriyah memiliki peran penting dalam administrasi, dokumentasi, dan penyusunan keputusan-keputusan keagamaan. Mujiburrahman akan mendampingi Rais Syuriyah dalam menjalankan fungsi-fungsi tersebut. Masuknya Prof. Mujiburrahman ke jajaran Syuriyah, dinilai memperkuat representasi kalangan akademisi dalam kepemimpinan NU Aceh. Sebelumnya, ia pernah menjabat Ketua Lembaga Pendidikan Ma'arif PWNU Aceh periode 2021-2026 dan menjadi anggota A'wan PWNU Aceh pada periode yang sama.
Saat ini, ia juga menjabat Wakil Ketua Dewan Penasehat Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Aceh. Mujiburrahman sendiri telah menjadi kader Nahdliyin sejak di bangku kuliah dengan mengikuti Mapaba pada PMII Banda Aceh pada tahun 1992.
| Baca juga: Zulhas Bakal Lantik Pengurus DPW PAN Aceh |
Prof. Mujiburrahman mengatakan keterlibatan akademisi dalam kepengurusan NU merupakan ikhtiar untuk memperkuat sinergi, antara tradisi keulamaan dan pengembangan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi.
"NU sejak awal dibangun di atas tradisi ilmu. Kehadiran akademisi bukan untuk menggantikan peran ulama, melainkan memperkuat kerja-kerja keumatan melalui pendekatan yang lebih sistematis, berbasis riset, dan mampu menjawab tantangan zaman," kata Mujiburrahman usai pelantikan.
Menurutnya, para akademisi dapat menjadi mitra strategis para alim ulama dalam menerjemahkan gagasan dan nilai-nilai keislaman ke dalam program yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Ia menambahkan, kolaborasi antara ulama dan kalangan intelektual menjadi modal penting bagi NU untuk menjaga moderasi beragama, memperkuat pendidikan, dan merawat persatuan di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....