Ananda Bersinar Libatkan Remaja Cegah Penyalahgunaan Narkoba
- 26 Jun 2026 17:55 WIB
- Banda Aceh
RRI. CO. ID, Banda Aceh – Upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba tidak lagi hanya bertumpu pada aparat dan orang dewasa. Anak-anak dan remaja kini didorong menjadi pelaku utama dalam membangun lingkungan yang bebas narkoba melalui program Anak Bersih Narkoba (Ananda Bersinar).
Hal tersebut mengemuka dalam Dialog RRI Diary Puan – Perempuan dan Anak di Programa 1 RRI Banda Aceh, Senin (22/6/2026), yang menghadirkan Penyuluh Narkoba Ahli Muda BNN Kota Banda Aceh, Lily Kartika, S.P., serta Duta Anti Narkoba SMP Negeri 6 Banda Aceh, Octaviana Octavia.
Lily Kartika menjelaskan bahwa peringatan Hari Anti Narkotika Internasional setiap 26 Juni bukanlah perayaan, melainkan momentum keprihatinan dunia terhadap penyalahgunaan narkotika yang terus meningkat.
Menurutnya, survei nasional yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan prevalensi penyalahgunaan narkotika di Indonesia meningkat dari 1,95 persen menjadi 2,14 persen pada 2025. Angka tersebut diperkirakan setara dengan sekitar 4,1 juta jiwa.
"Peningkatan ini menunjukkan bahwa persoalan narkoba masih menjadi ancaman serius. Karena itu, Presiden menetapkan penanganan narkoba sebagai salah satu isu strategis nasional melalui Asta Cita," kata Lily.
Ia mengatakan, program Ananda Bersinar hadir dengan pendekatan baru yang menempatkan anak dan remaja tidak hanya sebagai objek sosialisasi, tetapi juga sebagai subjek pencegahan penyalahgunaan narkoba.
Melalui pelatihan Remaja Teman Sebaya (RTS), para pelajar dibekali pengetahuan mengenai bahaya narkoba, keterampilan komunikasi, hingga kemampuan menjadi konselor bagi teman seusianya.
"Anak-anak lebih mudah menerima pesan dari teman sebaya dibandingkan ketika hanya mendengarkan ceramah orang dewasa. Karena itu kami membangun agen perubahan dari kalangan remaja sendiri," ujarnya.
Selain memahami bahaya narkotika, peserta pelatihan juga mendapatkan pembinaan karakter melalui pendampingan psikolog. Mereka dilatih mengelola emosi, meningkatkan kepercayaan diri, dan berani mengatakan "tidak" terhadap ajakan yang mengarah pada perilaku berisiko.
Lily menyebut rasa penasaran masih menjadi faktor utama penyebab remaja mencoba narkoba. Berdasarkan hasil survei BNN, sekitar 60 hingga 70 persen penyalahguna mengaku pertama kali menggunakan narkoba karena ingin mencoba.
Selain itu, lemahnya komunikasi dalam keluarga dan pengaruh lingkungan pergaulan turut menjadi faktor yang mendorong anak terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba.
"Ketika anak merasa tidak didengar di rumah, mereka mencari pelarian di luar. Jika bertemu lingkungan yang permisif, risiko penyalahgunaan narkoba menjadi semakin besar," katanya.
Dalam dialog tersebut, Lily juga mengingatkan masyarakat terhadap tren penyalahgunaan narkoba yang kini mulai memanfaatkan vape sebagai media konsumsi zat adiktif.
Ia mengungkapkan, hasil pemeriksaan ribuan sampel cairan vape menemukan sebagian mengandung zat yang dapat disalahgunakan, seperti ketamin maupun obat-obatan tertentu yang memiliki efek menyerupai narkotika apabila digunakan tanpa pengawasan medis.
Karena itu, BNN terus mendorong pengawasan yang lebih ketat terhadap penggunaan vape, terutama di kalangan remaja.
"Orang tua perlu memperhatikan perubahan perilaku anak. Jika tiba-tiba anak menjadi sangat sering menggunakan vape atau menunjukkan perubahan sikap yang drastis, itu perlu menjadi perhatian," ujarnya.

Sementara itu, Duta Anti Narkoba SMP Negeri 6 Banda Aceh, Octaviana Octavia, mengaku termotivasi mengikuti pelatihan karena ingin memahami bahaya narkoba sekaligus membantu teman-temannya agar tidak terjerumus.
Ia mengatakan, setelah mengikuti pelatihan dirinya aktif memberikan edukasi melalui presentasi di sekolah, kegiatan pramuka, media sosial, hingga pembuatan poster yang dipublikasikan melalui mading sekolah dan platform digital.
Menurut Octaviana, media sosial menjadi sarana efektif untuk menyebarkan informasi kepada generasi seusianya karena pesan dapat menjangkau lebih banyak orang dalam waktu singkat.
Ia juga bersama tim Satgas Anti Narkoba di sekolah rutin mengajak teman-teman berdiskusi mengenai dampak penyalahgunaan narkoba dan pentingnya memilih lingkungan pergaulan yang sehat.
"Kami ingin teman-teman tahu bahwa narkoba bukan sesuatu yang keren. Justru masa depan bisa hancur karena rasa penasaran sesaat," ujarnya.
Octaviana mengajak seluruh pelajar untuk berani menolak ajakan mencoba narkoba, lebih selektif dalam memilih teman, serta memanfaatkan masa remaja untuk belajar, berkarya, dan meraih cita-cita.
Di akhir dialog, Lily menegaskan bahwa pencegahan narkoba merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat. Ia berharap orang tua membangun komunikasi yang hangat dengan anak agar mereka memiliki tempat bercerita ketika menghadapi persoalan.
"Jangan biarkan anak mencari jawaban atas masalahnya di lingkungan yang salah. Pencegahan narkoba harus dimulai dari keluarga dan diperkuat oleh sekolah serta masyarakat," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....