Tradisi Bubur di Hari Asyura, Simpan Pesan Persatuan dari Kisah Nabi Nuh

  • 26 Jun 2026 09:44 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Sinjai - Tradisi memasak Bubur Syura atau Peca' Sura masih menjadi bagian dari peringatan 10 Muharram di tengah masyarakat Bugis dan Makassar. Tradisi tersebut tidak hanya menghadirkan sajian kuliner khas, tetapi juga mengandung nilai sejarah dan kebersamaan yang kuat.

Bubur Syura umumnya dibuat dari beras, santan, dan berbagai bahan pangan seperti pisang, nangka, jagung, beras ketan, labu, serta kacang hijau. Hidangan ini kemudian dilengkapi aneka lauk seperti tumpi-tumpi, telur dadar, udang, perkedel, dan kentang.

Proses pembuatannya dilakukan secara gotong royong di lingkungan masjid maupun permukiman warga. Setelah dimasak dan didoakan bersama, bubur dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol rasa syukur dan mempererat silaturahmi.

Ustadz Ach. Zamzuri, MA menjelaskan bahwa tradisi Bubur Syura memiliki filosofi yang berasal dari kisah Nabi Nuh AS saat menghadapi banjir besar. Ketika berada di atas kapal, Nabi Nuh mengajak kaumnya mengumpulkan sisa bahan makanan yang masih tersedia untuk dimasak dan dinikmati bersama.

"Bubur Asyura diambil dari kisah Nabi Nuh AS ketika menyeru kaumnya mengumpulkan sisa bahan makanan yang dibawa ke atas kapal. Bahan-bahan itu kemudian dimasak bersama sebagai simbol persatuan dan lahirnya generasi baru yang taat kepada Allah," ujarnya, Kamis, 25 Juni 2026.

Menurut Ustadz Zamzuri, tradisi tersebut boleh terus dilestarikan karena memiliki nilai edukasi dan kebersamaan yang positif. Namun masyarakat diingatkan agar tidak hanya mempertahankan bentuk tradisinya, tetapi juga memahami makna yang terkandung di baliknya.

"Tradisi seperti ini silakan tetap diperlangsungkan, tetapi jangan sampai kehilangan esensinya. Masyarakat harus mengetahui filosofi dan pesan yang terkandung di dalam tradisi tersebut agar nilainya tetap hidup dari generasi ke generasi," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....