Media Sosial Jadi Arena Teumeunak, MPU Minta Orang Tua Perkuat Pendidikan Karakter
- 24 Jun 2026 02:51 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh – Maraknya budaya teumeunak atau saling menghujat di media sosial dinilai menjadi ancaman serius bagi pembentukan karakter generasi muda Aceh. Ketua Komisi C Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh, Tgk. H. Umar Rafsanjani, Lc., M.A., menilai fenomena tersebut dipicu oleh lemahnya pemahaman agama, kurangnya kontrol dari lingkungan keluarga, serta minimnya penerapan etika dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh Pro 4, Rabu 17 Juni 2026, Umar Rafsanjani mengatakan perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam pola interaksi masyarakat. Namun, kemudahan akses media sosial tidak selalu diimbangi dengan pembekalan ilmu dan adab yang memadai, terutama bagi generasi muda.
Menurutnya, masyarakat Aceh pada masa lalu memiliki tradisi kuat dalam menanamkan nilai-nilai agama dan etika kepada anak-anak sebelum mereka merantau atau berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas. Orang tua tidak hanya membekali anak dengan pendidikan formal, tetapi juga menanamkan tanggung jawab moral untuk menjaga nama baik keluarga, daerah, serta nilai-nilai keislaman yang dianut.
"Anak-anak dulu dibekali ilmu, adab, dan etika. Mereka selalu diingatkan bahwa ke mana pun pergi tetap membawa nama orang tua dan nama Aceh. Sekarang banyak yang terpapar dunia digital tanpa memiliki bekal yang cukup sehingga mudah terbawa arus dan ikut dalam budaya saling menghujat," kata Umar.

Ia menjelaskan, budaya teumeunak yang kini marak di berbagai platform media sosial menjadi salah satu dampak negatif dari penggunaan teknologi tanpa pengawasan dan literasi yang memadai. Generasi muda dinilai mudah terpancing oleh isu-isu yang sedang viral, kemudian ikut memberikan komentar bernada caci maki tanpa memahami persoalan secara utuh.
Umar juga menyoroti semakin banyaknya konten di media sosial yang tidak mencerminkan nilai-nilai syariat Islam, mulai dari penggunaan bahasa yang kasar, perilaku tidak sopan, hingga tayangan yang mengabaikan norma berpakaian. Kondisi tersebut, menurutnya, menunjukkan adanya kesenjangan antara kehidupan nyata masyarakat Aceh dengan perilaku yang ditampilkan di ruang digital.
"Kalau melihat realitas hari ini, nilai-nilai keislaman belum sepenuhnya tercermin dalam aktivitas masyarakat di media sosial. Kehidupan di dunia maya sering kali sangat berbeda dengan kehidupan nyata. Banyak orang merasa bebas berbicara apa saja tanpa mempertimbangkan etika dan dampaknya terhadap orang lain," ujarnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, MPU Banda Aceh menekankan pentingnya peran orang tua, guru, dan lembaga pendidikan dalam memperkuat pendidikan karakter dan keagamaan. Umar menilai hubungan spiritual antara orang tua dengan anak serta guru dengan murid harus terus dipelihara agar generasi muda memiliki kontrol diri saat berinteraksi di ruang digital.
Ia berharap generasi muda Aceh tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang aktif, tetapi juga mampu menjaga adab, etika, dan nilai-nilai Islam dalam setiap aktivitas di media sosial. Menurutnya, kemajuan teknologi seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana menebarkan kebaikan, bukan menjadi ruang untuk saling mencela dan merendahkan sesama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....